SPIRIT

♣ ROH YANG TERUS MENYALA-NYALA ♣

Roma 12:11, ”Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”


Firman Tuhan di atas mengatakan kepada kita supaya kita jangan kehilangan semangat dan terus melayani Tuhan.

Orang yang memiliki semangat atau gairah untuk Tuhan, akan antusias untuk melakukan pekerjaanNya dan melayani Dia. Orang yang sedang bergairah, tidak perlu didorong dari luar, tetapi gairah itu akan menimbulkan inisiatif untuk melayani Tuhan.

Gairah itu ibarat kobaran api yang menyala-nyala. Supaya gairah itu tetap ada, kita harus menjaga api itu tetap menyala-nyala. Karena ada hal-hal yang dapat memadamkan api itu dan mematikan gairah kita. Maka kita perlu memperhatikan beberapa kondisi ini yang dapat mematikan gairah kita untuk melayani.

Pertama, adalah amarah.

Yakobus 1:20, “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”

Marah itu boleh, tapi yang tidak boleh adalah ketika itu sudah menjadi amarah atau emosional.

Ciri-ciri orang yang emosional adalah tergesa-gesa, reaktif tanpa berpikir terlebih dahulu, mudah tersinggung dan berasumsi.

Ketika kita menjadi marah-marah, iblis mencuri sukacita dan damai sejahtera.

Orang yang emosional menjadi sulit untuk mendengar dan berpikir. Karena itu, kita perlu belajar menjadi tenang dan tidak dikendalikan oleh emosi. Dan belajar untuk mendengar sebelum kita bereaksi dan bertindak.

Yakobus 1:19, ”Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;”.


Kedua, mementingkan diri sendiri dan mencintai uang

II Tim 3:1-2,

3:1. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,


Ciri-cirinya adalah semua prioritas untuk diri sendiri atau egois.

Orang yang mementingkan diri sendiri akan terfokus pada dirinya dan masalah-masalahnya sendiri. Tidak ada lagi kepedulian kepada orang lain dan melayani.

Karena itu harus belajar untuk tidak fokus pada diri sendiri dan mulai peduli pada orang lain.

Ketiga, kepahitan dan kekecewaan

Kis 8:23, ”sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.”


Ciri-cirinya adalah pikiran negatif, tidak mau baca Firman, tidak mau berkomunitas, suka menyendiri, dapat menimbulkan dosa kenajisan.

Kecewa adalah sebuah pilihan dan keputusan. Apakah kita mau menjadi kecewa terhadap suatu kondisi atau orang, ataukah tetap mengambil respon yang benar, itu kembali pada pilihan kita. Namun kepahitan dan kekecewaan dapat mematikan gairah dan semangat kita.

Ketika kita menemukan kondisi-kondisi ini dalam hidup kita dan mulai meredupkan api roh kita, maka kita perlu mengatasinya dan menjaga supaya gairah itu bisa tetap menyala. Kita butuh komunitas untuk dapat menjaga hidup kita dan membakar kembali semangat kita. Jangan pernah keluar dari komunitas ketika kondisi kita menjadi lemah. Justru itu waktunya kita perlu komunitas untuk dapat membangun kita kembali. Ketika kita bersama-sama dengan orang yang sedang bergairah dan bersemangat, maka api mereka akan membakar dan menyalakan gairah kita kembali.

Janganlah kerajinan kita menjadi kendor, teruslah miliki roh yang menyala-nyala dan layani Tuhan. Kasih karunia Tuhan yang akan memampukan dan menyertai setiap kita.

(Khotbah Pdt. Jono, Minggu 2 Mei 2010)


***GBU***


Biarlah Rohmu Menyala-Nyala

(Ir. Welyar Kauntu)

Reff:

Biarlah Rohmu Menyala-Nyala
Dan Layanilah Tuhan
Biarlah Rohmu Menyala-Nyala
Dan Layanilah Tuhan

Tak Ada Banyak Waktu
Giatlah Dan Jangan Lalai
Pekerjaan Besar Menunggu
Ladang Siap Dituai

Tanggalkan S’gala Beban
Dan Dosa Yang Merintangi
Berlari Pada Tujuan
Panggilan Surgawi

***GBU***

For of Him, and through Him, and to Him, are all things:
to Whom be glory forever. Amen.

Sebagai manusia tentunya kita pernah merasa letih, lesu, dan berbeban berat. Kita kehilangan fokus dan arah yang benar. Kita terlalu terfokus pada masalah hingga kita merasa lelah sendiri. Sobat, apa pun dan bagaimana pun kondisi kita saat ini, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu yang buruk, melainkan rancangan-rancangan-Nya adalah rancangan yang penuh dengan damai sejahtera, ini janji yang Tuhan berikan bagi kita anak-anak yang dikasihi-Nya:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;
apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu…”
(Yeremia 29:11-14a)

Beberapa saat yang lalu saya pun mengalami kondisi seperti di atas dan saya sangat bersyukur. Tuhan mengizinkan saya untuk melewati masa-masa tersebut, dan saya mendapatkan banyak hal-hal baru yang sangat berarti. Tuhan memperlihatkan pada saya bahwa Ia berkuasa dan berdaulat dalam segala hal. Bagian saya adalah tetap setia dan percaya kepada-Nya.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24)

Janji Tuhan ini sungguh-sungguh saya alami. Saya belajar untuk menyerahkan segala kekuatiran saya kepada-Nya.

“Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23)

Tuhan tidak pernah salah! Pasti ada rencana-Nya yang indah di balik setiap perkara yang Ia izinkan terjadi dalam hidup kita.

Sobat, di bawah ini ada sebuah artikel yang ingin saya bagikan untuk kalian. Artikel ini sangat memberkati saya dan saya berharap kalian pun dikuatkan melalui firman-Nya dalam artikel ini. Selamat membaca!

 

All blessings,

 

Stephani Debora

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KUATKAN  DAN TEGUHKANLAH HATIMU


“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu,   Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazm 27:14)


Mungkin saat ini ujian Anda mencapai puncaknya.

Jiwa serasa tengggelam dan hati menjadi sakit, iman goyang karena pencobaan yang tiada henti. Dukacita datang dan penderitaan makin mencekam.

Ya, seperti kata pepatah bahasa Inggris: “Misfortunes never come alone”. Ketidak-beruntungan tidak pernah datang sendirian. “Sudah jatuh ditimpa tangga pula.”

“Aku tidak tahan lagi. Aku tahu Dia melindungi dan menolong aku, tetapi aku sudah lelah. Apa yang harus kulakukan? Tuhan mengatakan ‘kuatkanlah lutut yang goyah’ tetapi bila aku benar-benar tidak sanggup lagi, apa yang harus kulakukan?”

Apa yang Anda lakukan bilamana Anda seperti seorang pelari marathon, Anda merasa sudah berlari demikian jauh dan bertahan sampai beberapa kilometer tetapi tidak kuat lagi dan merasa hampir pingsan?

Anda tidak dapat melakukan apa-apa lagi.

Anda harus berhenti, kalau tidak, Anda akan jatuh.

Kalau ada bahu orang yang mencintai Anda, Anda dapat meletakkan kepala Anda di atasnya.

Anda bergantung kepada orang lain.

Anda membaringkan badan dan mempercayakan diri kepada orang lain yang akan membantu Anda.

Dalam keadaan yang sedemikian, maka Allah tidak akan berkata:

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu”.

Namun ketika Dia tahu bahwa kekuatan dan pertahanan kita sudah tidak ada lagi, maka kata-kata manis ini yang menghibur kita:

“Diamlah dan ketahuilah bahwa Aku adalah Allah.”


Hudson Taylor, seorang hamba Tuhan pada saat akhir hidupnya menulis kepada seorang teman dekatnya sbb:

“Aku merasa tubuhku sudah begitu rapuh, sehingga untuk menulis saja aku tidak dapat, membaca Alkitab aku pun tidak mampu, bahkan untuk berdoa pun aku tidak dapat lagi… Aku hanya dapat menyandarkan kepalaku kepada tangan Tuhan seperti seorang anak kecil dan mempercayakan diriku kepada-Nya.”

Hamba Tuhan yang setia ini dengan mengerahkan seluruh kekuatan jiwanya menyerahkan tubuhnya yang sangat lemah beristirahat dan diam, di mana dia mendapat perhentian sejati.

Demikian juga Tuhan mengharapkan bilamana Anda tidak kuat untuk bertahan lagi, berdiamlah. Dan ketahuilah bahwa Dia adalah Allah yang sanggup menopang dan berperang bagi kita!

Ia akan memimpin kita melewati semuanya itu.

Sama seperti orang Israel yang lari dari Mesir, dikejar Firaun dan bala tentaranya, mereka berkata kepada Musa: “Tidak adakah kuburan di tanah Mesir, maka engkau mebawa kami mati di padang gurun ini?”

Maka berkatalah Musa kepada bangsa itu:

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan… Tuhan akan ber-perang untuk kamu dan kamu akan diam saja.” (Kel. 14: 13-14)

Kita tahu akhir ceritera ini, Firaun dan bala tentaranya mati tergulung ombak laut Teberau dan kesaksian ini senantiasa diceriterakan oleh bangsa Israel kepada generasi barunya secara terus menerus.

Bila kita sudah tidak dapat berlari lagi dan tidak kuat lagi, berdiamlah, Tuhan yang akan berperang bagi kita!


source: gkga-sby.org

FREE WILL (Kehendak Bebas)

Setiap manusia di dunia ini mempunyai free will atau kehendak bebas. Ketika saya menyadari hal ini, saya melihat betapa Allah begitu baik dan sangat menghargai kita. Dia tidak memperlakukan kita seperti robot, namun Dia memberikan kebebasan bagi kita dalam memilih. Berikut kutipan dari bahan saat teduh yang saya baca dan renungkan berkaitan dengan free will:

Free will merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan pada manusia, yang diciptakanNya serupa dengan gambar dan teladanNya. Sebagian besar hidup kita, tanpa kita sadari, berisi pilihan-pilihan yang kita buat dari waktu ke waktu, termasuk pilihan untuk mencintai Tuhan. Allah memberi kita free will agar kita menetapkan sendiri bahwa bila kita mengasihiNya, itu karena kita memilih untuk melakukannya, bukan karena terpaksa. Cinta sejati lahir ketika kita ada pilihan.

Pada sejumlah kejadian, penderitaan terjadi sebagai konsekuensi dari pelaksanaan free will (kehendak bebas/pilihan moral) dari seseorang yang kemudian membawa akibatnya kepada diri sendiri dan orang lain.

Yup, tepat sekali. Kita telah melihat dengan jelas bagaimana manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa karena mereka memilih untuk tidak taat pada perintah Allah. Setiap pilihan yang kita buat pasti mendatangkan konsekuensi!

Hati saya begitu sedih ketika melihat seseorang yang telah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, namun tetap saja ia memilih yang buruk. Saya bertanya-tanya kepada Tuhan, bagaimana caranya supaya ia bisa sadar, namun kembali saya diingatkan olehNya mengenai free will ini. Saya menyadari bahwa Tuhan saja memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih, mengapa saya harus membatasi apa yang tidak Tuhan batasi.

Di sisi lain, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menasihati, menegur, dan mengingatkan seseorang apabila ia telah melakukan sesuatu yang salah atau berpotensi membahayakan dirinya. Di sini seolah-olah ada sebuah dilema. Namun, kalau kita menelaahnya dengan lebih jernih kita pun akan mendapat jawabannya.

Ya, pilihan tetap berada di tangan masing-masing individu. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba mengarahkannya agar ia berhati-hati dan tidak salah memilih. Ketika mengambil sebuah pilihan, maka ia harus berani mempertanggungjawabkannya, apalagi jika pilihan yang ia buat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi berpengaruh kepada orang lain. Ia harus siap akan segala konsekuensi akibat pilihannya.

Tapi ini belum final! Manusia ternyata tidak mampu bertanggungjawab atas pilihannya. Adam dan Hawa ketika mendapati bahwa mereka telanjang, mereka berusaha menutupi tubuh mereka dengan daun. Apakah hal ini berhasil? Tidak! Allah yang memberi jalan keluar dengan mengenakan pakaian dari kulit binatang untuk mereka. Di sinilah kita melihat bagaimana Allah merancang karya penyelamatanNya bagi manusia. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, segala usaha yang mereka lakukan sia-sia. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita. Begitu juga dalam memilih, kita yang “buta” ini tidak dapat berjalan sendiri tanpa ada Allah yang menuntun. Hanya dengan melekat padaNya-lah kita dapat melihat dan menilai segala sesuatu dengan benar. Dan hanya Dialah yang dapat memampukan kita mengambil pilihan dengan tepat. Ketika kita tinggal di dalam Dia, dan Ia di dalam kita, maka pastilah apapun yang kita kehendaki akan selaras dengan kehendakNya atau dengan kata lain Ia akan menaruh kehendakNya dalam hati kita.

Saya teringat akan janji Tuhan yang sangat indah yang terdapat dalam kitab Yehezkiel berikut ini:

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. (Yehezkiel 36:26-27)

Ada orang yang mengatakan bahwa karena hidup ini adalah hidupnya, maka dialah yang sepatutnya menentukan apa yang akan dipilihnya. Benarkah demikian? Jelas jawabannya tidak! Hidup kita bukan milik kita, melainkan milik Kristus. Dialah yang telah menebus kita dengan tubuh dan darahNya, Dialah pemilik hidup kita (bdk Gal 2:20)! Justru yang harus kita lakukan adalah menyerahkan segenap hidup kita bagiNya, agar kehendakNya-lah yang terjadi dalam hidup kita. Mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah, tidak hanya untuk kekekalan, namun juga selama kita hidup di dunia ini. Setiap hal, sekecil apapun, semua ada di tanganNya.

Jika dihubungkan dengan free will tadi, saya pribadi memilih untuk menyerahkan pilihan saya ke dalam tanganNya. Saya sadar bahwa saya tidak mampu memilih sendiri. Respon selanjutnya ialah saya berusaha mencari tahu apa yang Ia inginkan. Dan setelah mengetahuinya, langkah berikutnya adalah taat melakukan apa yang Ia kehendaki. Ketika kita taat menjalankan apa yang Ia kehendaki untuk kita lakukan, maka kita tidak perlu khawatir sedikit pun, karena Tuhan-lah yang menjamin kita.

Temans, jangan sampai kita salah memilih. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang akan kalian ambil. Dialah pribadi pertama dan utama yang harus kita tuju. Jangan lengah akan hal ini. Dan jika Tuhan telah memberitahu kita dengan jelas mana yang baik dan mana yang buruk , yang sesuai kehendakNya dan yang tidak berkenan kepadaNya, maka jangan kita keras kepala. Taat dan tunduk pada kehendakNya. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di luar Tuhan, tidak akan mendatangkan kebaikan/damai sejahtera namun justru kesia-siaan. TETAP BERJAGA-JAGA & BERDOALAH! God leads..

All blessings,

Stephani Debora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s