CORPUS DELICTI


Pernah timbul pertanyaan yang sulit untuk menemukan jawabnya: Mengapa ketika Lusifer berserta para malaikat yang dihasutnya memberontak kepada Allah, Allah tidak segera membinasakan mereka seketika itu juga dan menghukumnya? Kalau pada waktu mereka memberontak, Allah segera atau seketika itu membinasakan mereka, maka tidak akan ada kejatuhan manusia dalam dosa. Dunia tidak akan menghadapi bencana oleh sepak terjang Lusifer dan para malaikat yang jatuh tersebut.

Dalam kitab Wahyu 12:7-9, dikatakan bahwa malaikat-malaikat Allah-lah yang berperang melawan “naga” yang adalah gamabran Lusifer beserta dengan malaikat-malaikatnya. Mengapa bukan Allah sendiri yang bertindak, tetapi malaikat-malaikat-Nya yang berperang. Sulit dibantah, bahwa terkesan begitu alot untuk dapat menaklukkan Lusifer. Bukankah dengan jentikan jari Allah Bapa bisa memusnahkan Lusifer? Mengapa Ia tidak melakukannya? Memang di kitab Yehezkiel, terdapat catatan seakan-akan atau terkesan Allah langsung membuang Lusifer, tetapi kalau diamati dengan teliti ayat-ayat itu menunjuk ringkasan dari akhir hidup Lusifer. Di dalam ayat-ayat tersebut tidak diungkapkan mekanisme pengusiran tersebut (Yehezkiel 28:16-19).

Ternyata pada akhirnya bukan malaikat-malaikat Allah yang bisa mengalahkan iblis tetapi darah Tuhan Yesus dan perkataan kesaksian mereka yang dikatakan “tidak menyayangkan nyawanya” (ini menunjuk orang percaya yang mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus) (Wahyu 12:11). Pada prinsipnya, jelas sekali bahwa Allah Bapa tidak segera membinasakan Lusifer yang memberontak kepada-Nya. Seakan-akan ada yang menahan Allah bertindak membinasakan Lusifer seketika itu. Jawaban mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer seketika itu, akan dikemukakan panjang lebar dalam tulisan ini di bagian belakang.

Firman Tuhan mengatakan bahwa upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus (Roma 6:23). Kalau Allah dengan mudah mengampuni kesalahan Adam dan Hawa, berarti Ia Allah yang tidak adil, Allah yang tidak tertib, Allah yang tidak memiliki sistem dan aturan. Ternyata Allah adalah Allah yang memiliki integritas yang sempurna. Di dalam diri Allah yang juga merupakan hakekatnya terdapat hukum (rule), sistem, dan aturan. Ia Allah yang tertib. Karena integritas Allah tersebut, maka Allah tidak bertindak sembarangan tanpa aturan.

Dalam kisah Ayub ada satu kebenaran yang lolos dari pengamatan banyak orang. Padahal kebenaran itu justru inti kitab Ayub. Ternyata dalam kisah Ayub, Allah hendak menunjukkan bahwa Ia mencari pembanding untuk menunjukkan keberadaan Lusifer. Satu hal yang harus diperhatikan adalah pernyataan Allah kepada iblis, ketika iblis ada di tengah-tengah anak Allah: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:7; 2:7). Tentu yang dilakukan Allah ini bukan sekedar hendak memuji Ayub. Di balik pujian tersebut pasti ada sesuatu yang sangat penting yang harus kita pahami.

Apa yang dikemukakan dalam kitab Ayub hendak membuka mata pengertian kita terhadap kebutuhan pembanding. Pembanding juga menggiring pada fakta bahwa iblis bersalah. Pembanding itu juga berfungsi sebagai corpus delicti, itulah sebabnya harus ada makhluk ciptaan yang taat kepada Bapa di Sorga, mengasihi Bapa, dan hidup dalam persekutuan dan pengabdian kepada Allah Bapa. Sosok seperti inilah yang kemudian ditampilkan oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai Adam kedua atau Adam terakhir. Ia dapat menampilkan kehidupan yang taat kepada Bapa bahkan mati di kayu salib (1 Korintus 15:45). Tuhan Yesus menghadapi ujian dan pencobaan bukan hanya sampai di kesehatan fisik-Nya seperti Ayub tetapi sampai pada nyawa-Nya (Filipi 2:5-8). Tuhan Yesus menang atas segala pencobaan tersebut sehingga keselamatan manusia dapat tersedia. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula atau tujuan awal.

Tuhan Yesus tampil menggantikan tempat manusia yang harus dihukum dengan memikul atau menanggung dosa manusia. Hal ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya Ia bisa menjadi corpus delicti (fakta yang menunjukkan atau membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan). Hal ini membuktikan bahwa iblis terbukti bersalah dan pantas dihukum.

Hanya dalam kekristenan terdapat mekanisme keselamatan semacam ini. Itulah sebabnya hanya kekristenan yang memiliki konsep keselamatan “hanya oleh anugerah” (Latin sola gracia, Inggris only by grace). Wujud anugerah itu adalah pemberian Anak Tunggal Allah Bapa untuk menyelamatkan manusia. Dengan demikian kalau seseorang menolak kesempatan dalam Yesus Kristus, maka ia memandang Allah sebagai Allah yang tidak memiliki aturan.

Allah tidak akan pernah bertindak secara sembarangan tanpa aturan, tanpa hukum atau rule. Allah adalah Allah yang tertib. Di dalam diri-Nya ada hukum, aturan, atau kebijakan-kebijakan dari kecerdasan-Nya yang tiada batas. Dalam bertindak ada hukum atau semacam “The rule of the game” (aturan main) atau The rule of life(hukum kehidupan) yang oleh kedaulatan-Nya sendiri Allah tetapkan. Allah bertindak sesuai dengan hukum atau aturan tersebut. Inilah yang pasti dipahami oleh oknum yang disebut Lusifer, sehingga ia berani memberontak kepada Allah. Ia tahu bahwa Allah terikat dengan hukum dalam diri-Nya dan Ia tidak dapat menyangkalinya. Lusifer memanfaatkan realitas tersebut untuk mewujudkan keinginannya.

Memang hal ini tidak tertulis secara eksplisit (terang-terangan) tetapi inilah fakta yang bisa ditangkap secara logis yang bisa menjawab pertanyaan di atas (mengapa Allah tidak bisa segera membinasakan iblis?). Dari menganalisa secara jujur, mendalam dan analitis tindakan-tindakan Allah yang ditulis di dalam Alkitab, maka kita dapat memperoleh pemahaman yang tepat berkenaan dengan diri Allah dan hukum kehidupan ini.

Sangatlah logis kalau dipahami bahwa tidak mungkin Lusifer berani melawan Allah Bapa tanpa alasan atau dasar yang kuat. Ternyata Lusifer melihat celah peluang atau kemungkinan untuk bisa memenangi perlawanan terhadap Allah, sebab Allah tidak bisa bertindak di luar hukum keadilan-Nya. Lusifer mencoba mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan dari realitas tersebut. Ia membawa dirinya dengan Allah pada suatu “pertarungan”. Lusifer “berjudi” dengan keputusannya sendiri. Ia berharap bisa memperoleh apa yang diinginkan, yaitu mengangkat diri sebagai penguasa menyamai Allah. Itulah sebabnya dikatakan dalam Yehezkiel 28:16, bahwa ia berdagang. Berdagang artinya melakukan suatu usaha untuk memperoleh keuntungan tetapi masih bersifat “spekulatif” (untung-untungan). Di mana pun, aktivitas perdagangan memiliki unsur spekulatif ini.

Mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer saat itu juga ketika ia memberontak? Sebab tindakan Lusifer belum bisa dikatakan salah, sebab tidak ada verifikasi atau pembuktian bahwa Lusifer bersalah. Harus ada semacam “corpus delicti” (fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan). Anak Allah lainnyalah yang seharusnya membuktikan itu.

Demikian pula Lusifer yang jatuh, tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktiannya yaitu adanya makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan Dia secara benar. Makhluk yang memiliki ketaatan kepada Bapa itulah semacam “corpus delicti”. Hal ini membungkam iblis sehingga tidak bisa mengelak, sebab iblis terbukti melakukan suatu kesalahan. Inilah rule of the game (life) nya.

Ketika iblis memberontak melawan Allah, Allah tidak seketika bisa membinasakan. Ada “rule atau hukum atau aturan untuk bisa menunjukkan bahwa iblis bersalah dan pantas dihukum. Rupanya waktu itu belum ada pembuktian bahwa tindakan iblis bersalah dan patut dihukum, sebab jika pada waktu itu suda bisa terbukti iblis bersalah, niscaya iblis sudah dihukum. Bagaimana membuktikan bahwa iblis bersalah? Jawaban yang paling logis adalah Allah harus menciptakan makhluk yang melakukan kehendak-Nya, menjadi makhluk seperti yang dikehendaki-Nya atau yang dirancang-Nya. Untuk ini Allah melahirkan anak-Nya yang lain, yaitu Adam.

Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan, Allah dan meninggikan Allah Bapa serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal itu menjadi pembuktian terhadap kesalahan iblis sehingga ia bisa dihukum. Inilah rule of the game-nya. Kalau ada pertanyaan: mengapa bukan malaikat lain yang tidak jatuh yang membuktikan kesalahan Lusifer? Jawabnya adalah bahwa Lusifer bukanlah malaikat, tetapi anak Allah. Itulah sebabnya Allah harus menciptakan anak-Nya yang lain (Yehezkiel 28:12-19).

Ternyata Allah menciptakan manusia bukan sekedar ingin memiliki makhluk yang segambar dengan diri-Nya, ditempatkan dalam sebuah taman untuk mengelolanya. Tentu tidak sesederhana itu. Ada rancangan atau agenda yang lebih besar dari hal tersebut. Ternyata manusia diciptakan untuk menggenapi rencana Bapa yaitu mengalahkan iblis dengan membuktikan bahwa ia bersalah (corpus delicti). Itulah sebabnya bahan dasar yang dimiliki manusia pada hakekatnya adalah dari dalam Allah sendiri, yaitu melalui hembusan nafas-Nya. Manusia diciptakan segambar atau serupa dengan diri-Nya sendiri. Sangat luar biasa. Hal itu dilakukan Bapa agar manusia bisa mengalahkan Lusifer yang jatuh tersebut. Di sini manusia menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mengakhiri sepak terjang Lusifer.

Untuk membuktikan kesalahan Lusifer agar ia pantas dihukum, harus ada makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki segambaran dengan Allah. Makhluk yang diciptakan untuk membuktikan kesalahan Lusifer yang jatuh tersebut adalah manusia. Dengan demikian sejatinya Adam di taman Eden bukan hanya dididik untuk bisa taat tetapi bisa mencapai suatu persekutuan yang ideal dengan Allah untuk membuktikan bahwa Lusifer bersalah dan pantas dihukum.

Kegagalan manusia pertama menyisakan persoalan, siapakah yang dapat mengalahkan iblis atau membuktikan bahwa iblis bersalah dan pantas untuk dihukum. Tidak ada jalan lain, kecuali Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa. Anak Tunggal Bapa harus turun ke bumi menjadi manusia, untuk membuktikan bahwa ada pribadi yang bisa taat tanpa syarat kepada Bapa dan mengabdi sepenuhnya (Filipi 2:5-11; Yohanes 4:34). Hal ini akan membuktikan bahwa tindakan iblis salah dan patut dihukum.

Dalam 2 Petrus 3:11-14 terdapat pernyataan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan hari Allah. Hari Allah maksudnya hari dimana Tuhan mengakhiri sejarah dunia. Ini berarti petualangan iblis atau Lusifer yang jatuh berakhir. Iblis dengan pengikutnya dibuang ke dalam kegelapan abadi. Pada hari penghukuman tersebut iblis dan para malaikatnya serta manusia durhaka akan dihukum di lautan api tersebut sedangkan orang percaya akan diangkat Tuhan di dalam kemuliaan kerajaan Sorga.

Hari Allah adalah hari yang paling mengerikan bagi iblis (Lusifer yang jatuh) dan para malaikat yang memberontak. Mereka berusaha agar hari itu bisa ditunda selama mungkin. Untuk itu iblis dan pengikutnya berusaha menghambat terlaksananya eksekusi hukuman atas diri mereka. Dengan cara bagaimanakah mereka menghambat hari Allah itu? Dengan cara mencegah orang percaya memiliki kehidupan yang saleh tidak bercacat dan tidak bercela (2 Petrus 3:11,14). Mengapa? Sebab dengan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela berarti menjadi seperti Tuhan Yesus. Menjadi seperti Tuhan Yesus berarti bisa menjadi corpus delicti (fakta yang menunjukkan bahwa suatu kesalahan telah dilakukan) yang mengalahkan iblis. Iblis telah terbukti berbuat salah oleh penampilan kehidupan Tuhan Yesus yang hidup dalam ketaatan kepada Bapa di Sorga. Rupanya bukan hanya Tuhan Yesus yang dapat menjadi corpus delicti, tetapi anak-anak Tuhan pun juga bisa oleh kehidupannya yang tidak bercacat dan bercela. Jika jumlah orang-orang yang menjadi corpus delicti cukup atau genap, maka sejarah iblis akan diakhiri (Wahyu 6:11).

Mempercepat dalam teks asilnya adalahspeudo, yang selain berarti mempercepat juga berarti mendesak. Bagaimana hal ini dimengerti, bahwa waktu Tuhan bisa dipengaruhi oleh manusia atau faktor eksternal? Hal ini bisa dimengerti kalau kita memahami bahwa akhir sejarah dunia ini menunggu lengkapnya atau genapnya jumlah orang yang tidak menyayangkan nyawa demi pengiringan kepada Tuhan Yesus. Hal ini didasarkan pada pernyataan Tuhan dalam Wahyu 6:11, ketika dipertanyakan sampai kapan penderitaan yang dialami oleh orang percaya berhenti. Tuhan menjawab sampai jumlah orang yang dibunuh atau mati karena iman dan pelayanan sudah genap.

Dalam hal ini kita mengerti mengapa iblis masih bekerja keras sebisa-bisanya untuk dapat mencegah manusia menjadi seperti Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk kemuliaan Allah Bapa; taat sampai mati di kayu salib. Semakin banyak orang percaya diproses makin seperti Tuhan Yesus, semakin cepat sejarah dunia berakhir dan iblis dihukum. Itulah sebabnya Lusifer yang jatuh menciptakan berbagai ajaran baik di dalam dan di luar gereja untuk menghambat manusia menjadi seperti Kristus. Hal ini berarti menutup kemungkinan manusia dikembalikan kepada rancangan semula Allah atau yaitu menjadikan manusia sebagai corpus delicti.

Apa yang dimaksud dengan “perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11). Hal ini penting untuk dipelajari sebab yang bisa mengalahkan iblis bukan hanya darah Tuhan Yesus tetapi juga “perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut”. Apa yang dimaksud dengan “perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut’?. Orang yang memiliki perkataan kesaksian adalah orang yang benar-benar telah mengalami suatu perjuangan yang “all out“, sampai tidak menyayangkan nyawa. Tidak menyayangkan nyawa juga berarti tidak memiliki kesenangan atau keinginan kecuali melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Inilah isi dan kualitas kehidupan Tuhan Yesus (Yohanes 4:34). Perjuangan seperti ini juga telah dialami oleh Paulus, bahwa darahnya siap dicurahkan demi pelayanan bagi jemaat Tuhan (2 Timotius 4:6-8). Inilah standar anak-anak Allah yaitu rela melepaskan nyawa bagi saudara-saudaranya (1 Yohanes 3:16).

Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus memberi syarat kepada pengikutnya untuk tidak menyayangkan nyawa kalau mau menjadi pengikut yang benar (Matius 10:39; 16:25). Kata nyawa dalam teks aslinya adalah psukhe yang artinya jiwa. Dalam jiwa terdapat pikiran, perasaan, dan kehendak. Dalam jiwa ada keinginan-keinginan dan segala hasrat. Di dalam jiwa ada berbagai pengertian dan filosofi. Oleh sebab itu seorang yang rela kehilangan nyawa harus rela mengubah filosofi hidupnya. Kesediaan berubah itu dengan cara sungguh-sungguh mengkonsumsi kebenaran sehingga mengalami pembaharuan pikiran (Roma 12:2). Melalui pembaharuan pikiran inilah gaya hidup seseorang diubah. Perubahan yang signifikan ditandai dengan kerelaan berkorban apapun demi melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Jadi, kalau seseorang masih perhitungan dengan Tuhan atau masih tidak bersedia berkorban bagi kepentingan Kerajaan Allah, ia belum bisa dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Roma 8:17). Seorang yang bisa menjadi corpus delicti adalah orang yang benar-benar menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Merekalah orang yang tidak menyayangkan nyawanya seperti Majikan Agungnya.

***GBU***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s