How Low Can You Go?


Shallom..😀

Hai teman-teman terkasih.. Senang sekali rasanya bisa berkesempatan menulis lagi.. Saya sangat bersyukur karena beberapa hari ini Tuhan banyak memberikan inspirasi melalui buku-buku, renungan saat teduh, dan melalui berbagai kegiatan dalam keseharian saya. Dia membukakan lebih dalam lagi kepada saya akan hal-hal di sekitar saya yang sebelumnya kurang atau bahkan belum pernah saya sadari. Saya rindu membagikan berkat ini untuk kalian. Mohon maaf yaa jika dalam penyampaiannya ada kekurangan. hehe.. Selamat menikmati.. God leads!

HOW LOW CAN YOU GO?

Teman2, menurut kalian mana yang lebih memungkinkan dari dua kondisi ini: yang “bawah” naik ke “atas” atau yang “atas” turun ke “bawah”? Yang mana yang lebih mudah: yang “bawah” merasakan yang “atas” ataukah yang “atas” merasakan yang “bawah”?

Kebanyakan dari kita lebih suka mendengar kisah tentang bagaimana seseorang yang berhasil dalam hidupnya, dahulu dia hidup susah namun sekarang dia menjadi orang yang  sukses dan terpandang, kaya, terkenal atau kondisi lainnya yang umumnya didambakan oleh setiap orang. Namun, ketika mendengar kisah seseorang yang tadinya sukses atau berada di atas namun kini dia bangkrut, umumnya kita memandangnya sebagi sesuatu yang menyedihkan. Kita juga umumnya memiliki harapan/mimpi untuk bisa naik ke atas, bukan turun ke bawah. Benar atau benar? hehehe..😉 Apakah salah kalau kita memiliki impian seperti itu? Tidak, namun cara pandang kita yang harus benar.

Minggu ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mencicipi dunia kerja. Saya diminta magang di suatu perusahaan swasta di Jakarta. Awalnya saya masih merasa asing di sana, namun perlahan-lahan saya mulai dapat beradaptasi dan menikmatinya. Di kantor saya, juga di kantor-kantor lain pada umumnya, terdapat berbagai jabatan, mulai dari Direktur, Head, Manager, Supervisor, Officer/Staff, Office Boy, Security, Pantry, dlsb. Saya sendiri merupakan ‘orang baru’ di kantor. Di sana saya mengamati bahwa lebih mudah bagi orang-orang dengan jabatan yang lebih tinggi untuk menjangkau orang-orang dengan jabatan di bawahnya daripada sebaliknya. Begitu juga dengan saya, lebih mudah bagi orang-orang lama di kantor tsb untuk memulai pembicaraan/mengakrabkan diri dengan saya yang adalah orang baru, daripada saya yang mendekatkan diri kepada mereka. Namun, fakta yang saya temui di lapangan memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Sangat jarang saya melihat adanya niat/kemauan dari orang-orang yang berada di atas untuk menengok dan berbagi rasa dengan orang-orang yang ada di bawahnya.

Kita seringkali sudah merasa cukup dengan zona nyaman kita sehingga kita tidak mampu melihat adanya kebutuhan di dalam diri orang lain yang sebenarnya juga merupakan kebutuhan kita. Nilai-nilai yang kita terima dari dunia mengajarkan kita untuk berusaha mencapai yang terbaik bagi diri kita, hal ini berujung pada terjadinya iklim persaingan di antara manusia dalam memenuhi kebutuhannya dan mengakibatkan manusia cenderung menjadi egois dan tidak menempatkan kepentingan orang lain lebih tinggi dari pada kepentingan diri sendiri. Yah, kondisi ini merupakan akibat dari dosa manusia. Iblis berupaya sedemikian rupa memutarbalikkan semuanya (termasuk nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia) dengan segala tipu muslihatnya.

Berbicara mengenai cara pandang manusia, saya seringkali mendapati adanya semacam peng’cluster’an antara “atas” dan “bawah”.  Pemberian sebutan “atas” dan “bawah” ini sering salah dimengerti oleh sebagian besar orang. Orang yang kaya dipandang sebagai yang “atas” sedangkan orang yang miskin dipandang sebagai orang “bawah”,  begitu juga untuk majikan vs buruh, pemimpin vs staf, bahkan gembala vs pengerja/jemaat, dan lain sebagainya. Manusia kerapkali memberikan nilai yang berbeda dalam melihat keduanya dan cenderung melahirkan perlakuan yang diskriminatif di antara keduanya. Stratifikasi dan diferensiasi sosial makin mendorong lahirnya berbagai macam pembedaan dalam masyarakat kita. Sadar atau tidak sadar, hal-hal ini merupakan cara pandang dunia, dan bukan berasal dari Tuhan.

Bagaimana cara pandang Tuhan? Setiap orang  berharga di mata Tuhan. Dia tidak pernah membeda-bedakan manusia, Dia mengasihi dan menghargai seorang direktur sama seperti Dia mengasihi dan menghargai seorang pesuruh di kantor. Dia memandang seorang penjahat dengan kasih yang sama besarnya dengan ketika Ia memandang seorang pembela kebenaran. Seburuk atau sehina atau sejahat apapun seseorang di mata manusia, di mata-Nya mereka sama berharganya dengan kita. Ketika saya menyadari hal ini saya merasa sangat malu dan tertampar. Betapa sering saya kurang menghargai orang lain, terlalu asyik dengan kepentingan dan kenyamanan saya sendiri, dan melihat mereka dengan penilaian yang diberikan oleh dunia. Hati saya hancur dan saya merasa sangat tidak layak untuk melakukan hal itu. Setiap jiwa berharga di mata-Nya, bagaimana mungkin saya yang hanyalah manusia biasa masih membeda-bedakan sesama saya sendiri? Setelah memahami bagaimana cara pandang Allah ini, penilaian “atas” dan “bawah” itu tidak berlaku lagi bagi saya. Dan ketika saya memakai cara pandang Allah dalam hubungan saya dengan sesama, maka Dia memampukan saya untuk mengasihi orang lain bahkan orang-orang yang saya benci karena perilakunya (perokok, penjahat) lebih dari apa yang bisa saya bayangkan sebelumnya.

Teman, Tuhan kita tidak hanya berhenti pada cara pandang saja, tetapi teladan yang Ia berikan Ia wujudkan dalam suatu tindakan nyata. Istilah perbedaan “atas” dan “bawah” memang tidak berlaku bagi sesama manusia, namun hal itu berlaku bagi Tuhan dan kita (manusia). Dia memang “atas” – kita memang “bawah”, Dia memang Pencipta – kita memang ciptaan, Dia adalah Tuhan yang kudus dan mulia – kita adalah manusia berdosa. Dengan fakta ini, dapatkah kalian hayati betapa besar kasih-Nya bagi kita ketika Dia – yang adalah Tuhan, Pencipta, yang “atas” – turun ke dalam dunia ini, berinkarnasi menjadi manusia seutuhnya, sama seperti kita yang adalah ciptaan-Nya. Sungguh betapa dahsyat Allah kita! Dia adalah teladan sejati yang mengajarkan kepada kita apa itu kerendahan hati. Dia “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:6-8). Dia yang adalah Raja segala raja, datang ke dunia ini yang adalah milik kepunyaan-Nya, bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani! Ia datang bukan hanya untuk melihat dan turut merasakan apa yang kita rasakan, namun lebih dari itu, Ia memberikan segala sesuatu yang dimiliki-Nya kepada kita, bahkan nyawa-Nya sendiri! Dia datang, supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10).

Luar biasa kasih Allah kita! Dia memandang kita sebagai anak-anak-Nya yang sangat berharga dan Dia mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan serta memenuhi kebutuhan kita tersebut dengan berlimpah-limpah. Ketika kita memandang sesama kita seperti Tuhan memandang mereka, maka Tuhan akan menaruh kerinduan-Nya ke dalam hati kita. Ia akan memberikan kepada kita kepekaan akan kebutuhan orang lain. Kebutuhan manusia yang sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. Dialah sumber jawaban dalam hidup setiap manusia. Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Dialah juruselamat kita, pemilik kehidupan kita. Ketika kita tinggal di dalam Dia maka buah-buah roh – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri – akan nyata dalam kita dan Roh Kudus akan senantiasa  menjaga serta memimpin tiap langkah hidup kita.

Inilah ajakan-Nya yang begitu lembut buat setiap kita:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih, lesu, dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28-29)

Ayat di atas kembali mengingatkan kita bahwa Dia – yang adalah Pemenuh sejati segala kebutuhan kita dan teladan hidup kita yang sempurna – memerintahkan agar kita masing-masing memikul kuk yang telah Ia pasang dan meneladani kelemahlembutan dan kerendahan  hati-Nya. Kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan-Nya dan membagikan kasih-Nya kepada siapa saja yang kita temui. “Yesus telah mempermuliakan Bapa di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepada-Nya untuk melakukannya. “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.” (Yoh 17:6). Seperti Yesus yang datang ke dunia ini untuk menyatakan Bapa kepada kita, demikian halnya kita  sebagai umat tebusan-Nya, kita harus menyatakan Kristus kepada sesama kita melalui cara pandang, sikap, perbuatan, pikiran, dan setiap hal dalam hidup kita. Semuanya adalah milik-Nya dan harus kita pergunakan sesuai dengan kehendak-Nya dan untuk kemuliaan-Nya.

Sebagai respon, saya mengajak kita semua mulai saat ini untuk lebih peka melihat kondisi di sekitar kita, marilah kita belajar untuk melihat sesama kita dengan cara pandang Tuhan, dan mintalah Dia memakai kita untuk dapat menjadi alat-Nya yang efektif dalam menjangkau mereka. Kalau Tuhan telah memberikan segala-Nya kepada kita, tidakkah hati kita tergerak untuk memberikan segala yang Dia percayakan kepada kita termasuk hidup kita untuk mendatangkan Kerajaan-Nya di bumi ini? Ingat: setiap orang sangat berharga di mata-Nya! Mereka perlu kasih-Nya dan tugas kitalah untuk menyatakannya..

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau..”

(Yesaya 43:4a)

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

… Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Matius 25:35-36, 40b

All blessings,

Stephani Debora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s