Mengokohkan Keluarga


Shalooom…..!
Haiiihaiiihaiiii sobat…🙂 HAPPY SUNDAY all!!! ^^ hehehe… Wah, hari ini saya benar-benar menikmati Tuhan dalam ibadah di gereja saya.. Mulai dari setiap pujian, penyembahan, doa2, dan juga firman yang ditaburkan.. Semuanya sungguh membawa kesegaran buat jiwa saya… Nah, di bawah ini saya bagikan firman yang tadi saya dapatkan dari Tuhan  melalui Bapak Gembala saya.. Isinya memang tentang hubungan keluarga, namun sebenarnya kita dapat juga mengapiklasikannya dalam hubungan persahabatan atau pertemanan kita… Selamat menikmati yaa kawan2… Tuhan Yesus memberkati kita semuaa…🙂

All blessings,

Stephani Debora

Mengokohkan Keluarga

Pendahuluan

Di penghujung akhir zaman ini iblis sedang bekerja lembur untuk menghancurkan umat Tuhan. Salah satu caranya yang paling efektif adalah dengan menghancurkan keluarga-keluarga. Bila keluarga berantakan maka anggota-anggotanya menjadi kehilangan tempat untuk mengadu dan berlindung sehingga mereka mudah diserang dan dijatuhkan oleh iblis.

Keutuhan serta keharmonisan rumah tangga harus dijaga dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut tidak terjadi secara otomatis! Tahukah saudara bagaimana cara termudah untuk menghancurkan sebuah kebun bunga yang indah? Dibiarkan saja! Jangan dirawat sama sekali, maka cepat atau lambat kebun itu pasti rusak! Demikian pula dengan sebuah pernikahan.

Setiap keluarga pasti mempunyai masalah. Apabila masalah-masalah itu tidak segera diatasi dengan baik, maka hal tersebut bisa merusak rumah tangga itu. Secara umum ada 3 sumber masalah yang biasanya ada di dalam keluarga. Ketiga sumber masalah itu bisa kita singkat dengan sebutan 3K!

Isi

K1: Kesibukan (Luk 10:38-42)

Di zaman modern ini kesibukan manusia menjadi semakin meningkat. Kesibukan untuk menuntut ilmu, kesibukan untuk mencari nafkah, kesibukan untuk berorganisasi, kesibukan dalam pelayanan, dan lain-lain. Dunia yang semakin penuh dengan persaingan ini menuntut setiap orang untuk berusaha mencapai tingkat prestasi yang setinggi-tingginya atau mereka akan tertinggal.

Tetapi kesibukan bisa membuat kita justru mengabaikan hal-hal yang paling penting dalam hidup ini, yaitu salah satunya hubungan dengan keluarga! Salah satu contoh nyata ialah pengalaman dari Bob Pierce. Ia mendirikan World Vision untuk menolong anak-anak sedunia yang menderita. Usahanya sukses tetapi ananknya sendiri justru meninggal karena bunuh diri.

Bagaimana cara untuk mengatasi masalah ini?

1. Milikilah prioritas yang tepat, yaitu:
a. Tuhan
b. Keluarga
c. Pekerjaan/Pelayanan

2. Investasikan waktu untuk keluarga
Investasi waktu yang paling berharga adalah untukmembangun hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama (terutama dengan keluarga kita sendiri).
Saran: Usahakan makan semeja dengan keluarga kita sesering mungkin. Jadwalkan hari-hari khusus seperti ulang tahun anggota keluarga, ulang tahun pernikahan dan lain-lain untuk dirayakan biarpun secara sederhana.

K2: Komunikasi yang buruk (Ef 4:29-32)

Survey membuktikan bahwa 90% konflik dalam keluarga terjadi karena nada suara yang salah. Kata-kata yang baik tetapi bila diucapkan dengan nada suara yang keras dan kasar bisa menyinggung perasaan pasangan kita.

Alkitab mengajarkan agar janganlah kita mengeluarkan perkataan kotor dari mulut kita waktu berkomunikasi dengan orang lain, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun supaya orang lain bisa diberkati. Jauhkan perkataan yang pahit, geram, gossip, fitnah, dan lain-lain, melainkan pakailah kata-kata yang ramah, penuh kasih dan saling mengampuni.

Bila dalam keluarga saudara ada masalah dalam komunikasi, usahakan untuk segera mengatasinya supaya tidak menjadi semakin parah yang pada akhirnya bisa merusak keluarga saudara.

Cara untuk mengatasinya:
1. Sediakan waktu untuk bercakap-cakap.
NB: Kebutuhan wanita untuk berkomunikasi lebih besar daripada pria.
2. Gunakan kata-kata yang membangun (Ef 4:29, Ams 15:1).

K3: Konflik (Ef 4:26-27)

Perbedaan pendapat dapat memicu konflik. Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Setiap orang bisa berpikir dan mempunyai pendapat sendiri. Pendapat suami dan isteri serta anggota-anggota keluarga yang lain bisa berbeda-beda, dan hal ini bisa menimbulkan konflik.

Konflik jangan didiamkan tetapi harus segera diatasi supaya jangan membesar. Ibarat api, bila masih kecil bisa diatasi, tetapi bila semakin membesar akan semakin sulit untuk dipadamkan.

Cara mengatasi konflik:
1. Memahami pebedaan pria dan wanita.
– Wanita banyak memakai perasaan (otak kanan).
Pria banyak memakai logika (otak kiri)
– Wanita berorientasi pada relasi atau hubungan – isteri perlu dikasihi (Ef 5:33)
Pria berorientasi pada pekerjaan – suami perlu dihormati (Ef 5:33)
– Wanita menikmati proses.
Pria mau segera mencapai sasaran.
– Wanita senang mengobrol.
Pria sibuk mengejar sasaran.
– Wanita sering merasa tertekan. Wanita menjadi lebih emosional menjelang menstruasi – perlu dimengerti. Pria sering merasa kurang mampu, putus asa, gagal – perlu didukung.
– Wanita selalu memperhatikan masa lalu dan pelihat dekat. Memori terhadap masa lalunya kuat. Pria selalu memperhatikan masa depan dan pelihat jauh. Mereka cepat lupa pada masa lalu.
2. Berdoa bersama keluarga
– Jangan lupa untuk berdoa bagi keluarga kita setiap hari. Lebih baik lagi bila kita berdoa bersama dengan keluarga kita. Suami mendoakan isteri dan anak-anaknya lalu isteri ganti mendoakan suami dan anak-anaknya, bisa juga bergantian dengan anggota keluarga lain.
– Contoh: Herbert dan Zeimya Fisher baru-baru ini (th 2010) merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 86. Salah satu rahasia pernikahan mereka yang langgeng adalah karena setiap hari mereka saling mendoakan.

Kesimpulan

Keutuhan dan keharmonisan rumah tangga harus dijaga serta diusahakan dengan sungguh-sungguh. Hal itu tidak terjadi secara otomatis! Pupuklah bunga cinta dengan kasih sayang. Siramilah dengan perhatian yang tulus ikhlas, maka kebun cinta saudara akan semarak dengan bau yang harum dan dengan keindahan.

Buatlah keluarga saudara menjadi seperti sorga kecil di bumi bersama Tuhan dan dengan kerja keras saudara!!

Taken from:
Khotbah Gembala GBI Kamboja Depok, Pdt. Ir. Jongky T. Widjojo
(diangkat dari khotbah Pdt. DR. Rubin Adi Abraham di sidang Majelis Daerah GBI Jabar tanggal 24 Agustus 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s