Free Will


Setiap manusia di dunia ini mempunyai free will atau kehendak bebas. Ketika saya menyadari hal ini, saya melihat betapa Allah begitu baik dan sangat menghargai kita. Dia tidak memperlakukan kita seperti robot, namun Dia memberikan kebebasan bagi kita dalam memilih. Berikut kutipan dari bahan saat teduh yang saya baca dan renungkan berkaitan dengan free will:

Free will merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan pada manusia, yang diciptakanNya serupa dengan gambar dan teladanNya. Sebagian besar hidup kita, tanpa kita sadari, berisi pilihan-pilihan yang kita buat dari waktu ke waktu, termasuk pilihan untuk mencintai Tuhan. Allah memberi kita free will agar kita menetapkan sendiri bahwa bila kita mengasihiNya, itu karena kita memilih untuk melakukannya, bukan karena terpaksa. Cinta sejati lahir ketika kita ada pilihan.

Pada sejumlah kejadian, penderitaan terjadi sebagai konsekuensi dari pelaksanaan free will (kehendak bebas/pilihan moral) dari seseorang yang kemudian membawa akibatnya kepada diri sendiri dan orang lain.

Yup, tepat sekali. Kita telah melihat dengan jelas bagaimana manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa karena mereka memilih untuk tidak taat pada perintah Allah. Setiap pilihan yang kita buat pasti mendatangkan konsekuensi!

Hati saya begitu sedih ketika melihat seseorang yang telah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, namun tetap saja ia memilih yang buruk. Saya bertanya-tanya kepada Tuhan, bagaimana caranya supaya ia bisa sadar, namun kembali saya diingatkan olehNya mengenai free will ini. Saya menyadari bahwa Tuhan saja memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih, mengapa saya harus membatasi apa yang tidak Tuhan batasi.

Di sisi lain, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menasihati, menegur, dan mengingatkan seseorang apabila ia telah melakukan sesuatu yang salah atau berpotensi membahayakan dirinya. Di sini seolah-olah ada sebuah dilema. Namun, kalau kita menelaahnya dengan lebih jernih kita pun akan mendapat jawabannya.

Ya, pilihan tetap berada di tangan masing-masing individu. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba mengarahkannya agar ia berhati-hati dan tidak salah memilih. Ketika mengambil sebuah pilihan, maka ia harus berani mempertanggungjawabkannya, apalagi jika pilihan yang ia buat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi berpengaruh kepada orang lain. Ia harus siap akan segala konsekuensi akibat pilihannya.

Tapi ini belum final! Manusia ternyata tidak mampu bertanggungjawab atas pilihannya. Adam dan Hawa ketika mendapati bahwa mereka telanjang, mereka berusaha menutupi tubuh mereka dengan daun. Apakah hal ini berhasil? Tidak! Allah yang memberi jalan keluar dengan mengenakan pakaian dari kulit binatang untuk mereka. Di sinilah kita melihat bagaimana Allah merancang karya penyelamatanNya bagi manusia. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, segala usaha yang mereka lakukan sia-sia. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita. Begitu juga dalam memilih, kita yang “buta” ini tidak dapat berjalan sendiri tanpa ada Allah yang menuntun. Hanya dengan melekat padaNya-lah kita dapat melihat dan menilai segala sesuatu dengan benar. Dan hanya Dialah yang dapat memampukan kita mengambil pilihan dengan tepat. Ketika kita tinggal di dalam Dia, dan Ia di dalam kita, maka pastilah apapun yang kita kehendaki akan selaras dengan kehendakNya atau dengan kata lain Ia akan menaruh kehendakNya dalam hati kita.

Saya teringat akan janji Tuhan yang sangat indah yang terdapat dalam kitab Yehezkiel berikut ini:

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. (Yehezkiel 36:26-27)

Ada orang yang mengatakan bahwa karena hidup ini adalah hidupnya, maka dialah yang sepatutnya menentukan apa yang akan dipilihnya. Benarkah demikian? Jelas jawabannya tidak! Hidup kita bukan milik kita, melainkan milik Kristus. Dialah yang telah menebus kita dengan tubuh dan darahNya, Dialah pemilik hidup kita (bdk Gal 2:20)! Justru yang harus kita lakukan adalah menyerahkan segenap hidup kita bagiNya, agar kehendakNya-lah yang terjadi dalam hidup kita. Mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah, tidak hanya untuk kekekalan, namun juga selama kita hidup di dunia ini. Setiap hal, sekecil apapun, semua ada di tanganNya.

Jika dihubungkan dengan free will tadi, saya pribadi memilih untuk menyerahkan pilihan saya ke dalam tanganNya. Saya sadar bahwa saya tidak mampu memilih sendiri. Respon selanjutnya ialah saya berusaha mencari tahu apa yang Ia inginkan. Dan setelah mengetahuinya, langkah berikutnya adalah taat melakukan apa yang Ia kehendaki. Ketika kita taat menjalankan apa yang Ia kehendaki untuk kita lakukan, maka kita tidak perlu khawatir sedikit pun, karena Tuhan-lah yang menjamin kita.

Temans, jangan sampai kita salah memilih. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang akan kalian ambil. Dialah pribadi pertama dan utama yang harus kita tuju. Jangan lengah akan hal ini. Dan jika Tuhan telah memberitahu kita dengan jelas mana yang baik dan mana yang buruk , yang sesuai kehendakNya dan yang tidak berkenan kepadaNya, maka jangan kita keras kepala. Taat dan tunduk pada kehendakNya. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di luar Tuhan, tidak akan mendatangkan kebaikan/damai sejahtera namun justru kesia-siaan. TETAP BERJAGA-JAGA & BERDOALAH! God leads..

All blessings,

Stephani Debora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s