Review Makro 1


Aloha friends! ^^

Next exam: Macroeconomics 1. Yuk review apa aja materinya..

Ch. 9 : Introduction to Economic Fluctuations

AD (Aggregate Demand) adalah hubungan antara jumlah output yg diminta & tingkat harga agregat.
Kurva AD menunjukkan hubungan antara tingkat harga P dan jumlah barang yang dan jasa yang diminta Y. Kurva itu digambarkan untuk nilai jumlah uang beredar M tertentu. Kurva AD miring ke bawah; semakin tinggi tingkat harga P, semakin rendah tingkat keseimbangan riil M/P, dan karena itu semakin rendah jumlah barang dan jasa yang diminta Y.
Kurva AD dibuat untuk nilai dari jumlah uang yang beredar tetap (M konstan). Dengan kata lain, kurva tsb menyatakan kombinasi yang mungkin dari P dan Y untuk nilai M tertentu. Jika M berubah, maka P dan Y juga akan berubah, yang berarti kurva AD bergeser.
Pergeseran dalam Kurva AD: Perubahan jumlah uang yang beredar M menggeser kurva AD. Penurunan M mengurangi nilai nominal output PY. Untuk setiap P tertentu, output Y lebih rendah. Karena itu, penurunan M akan menggeser kurva AD ke kiri. Kenaikan M meningkatkan nilai nominal output PY. Untuk setiap tingkat harga P, output Y lebih tinggi. Karena itu, kenaikan M menggeser kurva AD ke kanan.

AS (Aggregate Supply) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang ditawarkan dan tingkat harga. Karena perusahaan yang menawarkan barang dan jasa memiliki harga yang fleksibel dalam jangka panjang tetapi harga yang kaku dalam jangka pendek, hubungan penawaran agregat bergantung pada horison waktu.
Jangka Panjang -> Kurva AS Vertikal
Dalam jangka panjang, tingkat output ditentukan oleh jumlah modal dan tenaga kerja serta ketersediaan teknologi; tingkat output tidak bergantung pada tingkat harga. Kurva penawaran agregat jangka panjang (LRAS-Long-Run Aggregate Supply) adalah vertikal.
Jangka Pendek -> Kurva AS Horisontal
Dalam jangka pendek, sebagian harga bersifat kaku dan karena itu, tidak menyesuaikan dengan perubahan permintaan. Karena kekakuan harga ini, kurva AS dalam jangka pendek (SRAS-Short-Run Aggregate Supply) tidak vertikal (horisontal).

Pergeseran AD dalam Jangka Panjang
Penurunan jumlah uang yang beredar (M) menggeser AD ke bawah (kiri). Karena kurva LRAS adalah vertikal, penurunan AD mempengaruhi tingkat harga P (dalam hal ini menurunkan tingkat harga dalam jangka panjang), tetapi tidak mempengaruhi tingkat output Y.
Pergeseran AD dalam Jangka Pendek
Penurunan jumlah uang yang beredar menggeser kurva AD ke bawah (kiri). Karena kurva SRAS adalah horisontal, dalam jangka pendek ketika harga adalah kaku, penurunan AD mengurangi tingkat output Y.

Dari Jangka Pendek ke Jangka Panjang: Penurunan AD
Penurunan AD menurunkan output Y dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang hanya berpengaruh terhadap tingkat harga P.

Kebijakan Stabilisasi
Perubahan eksogen dalam kurva AD dan AS disebut sebagai guncangan (shock) terhadap perekonomian. Guncangan yang menggeser kurva AD disebut guncangan permintaan (demand shock), dan guncangan yang menggeser kurva penawaran disebut guncangan penawaran (supply shock). Guncangan ini mengurangi kesejahteraan ekonomi dengan mendorong output dan kesempatan kerja jauh dari tingkat alamiah, serta menyebabkan fluktuasi ekonomi.
Kebijakan stabilisasi (stabilization policy) merupakan tindak kebijakan yang bertujuan mengurangi tekanan fluktuasi ekonomi jangka pendek. Kebijakan stabilisasi memperkecil siklus bisnis dengan mempertahankan output dan kesempatan kerja sedekat mungkin pada tingkat alamiah.

Guncangan AD
Contoh: peluncuran dan penyebarluasan kartu kredit. Kartu kredit mengurangi jumlah uang yang ingin dipegang orang, hal ini ekuvalen dengan kenaikan perputaran uang. Jika jumlah uang yang beredar tetap konstan, maka kenaikan perputaran uang menyebabkan pengeluaran nominal meningkat dan kurva AD bergeser ke kanan. Kenaikan AD, meningkatkan output dalam jangka pendek (perekonomian mengalami booming). Dengan harga lama, perusahaan sekarang menjual lebih banyak output. Karena itu, perusahaan memperkerjakan lebih banyak pekerja dan menambah produksi mereka. Selama itu, tingkat AD yang tinggi mendorong harga dan upah. Dengan naiknya tingkat harga, kuantitas output yang diminta menurun, dan perekonomian secara berangsur-angsur mendekati tingkat produksi alamiah. Tetapi selama masa transisi ke tingkat harga yang lebih tinggi, output perekonomian lebih tinggi dari tingkat alamiahnya.

Bagaimana peranan kebijakan stabilisasi untuk mngurangi ledakan ekonomi ini dan mempertahankan output lebih dekat ke tingkat alamiah?
Kebijakan Moneter: Bank Sentral bisa mengurangi junlah uang beredar untuk mengimbangi kenaikan perputaran. Mengimbangi perubahan perputaran (V) akan menstabilkan AD.

Guncangan AS
Guncangan penawaran (supply shock) adalah guncangan pada perekonomian yang bisa mengubah biaya produksi barang serta jasa dan akibatnya, mempengaruhi harga yang dibebankan perusahaan kepada konsumen.
Contoh: hama menghancurkan pertanian. Penurunan penawaran makanan mendorong harga makanan naik.
Peristiwa ini merupakan guncangan penawaran yang memperburuk (adverse supply shock), yang berarti meningkatkan biaya dan harga. Jika AD dipertahankan konstan, kurva SRAS bergeser ke atas: tingkat harga naik dan jumlah output turun di bawah tingkat alamiah. Peristiwa ini dikenal dengan istilah stagflasi, karena mengkombinasikan stagnasi (penurunan output) dengan inflasi (kenaikan harga).

Bagaimana peranan pengambil kebijakan?
Pembuat kebijakan yang mengendalikan permintaan agregat dalam hal ini menghadapi 2 pilihan yang sulit.
Opsi pertama adalah mempertahankan permintaan agregat konstan. Dalam kasus ini, output dan kesempatan kerja lebih rendah dari tingkat alamiah. Secara bertahap, harga akan turun untuk mencapai full employment pada tingkat harga lama. Tetapi akibat proses ini adalah resesi yang parah.
Opsi yang kedua adalah memperluas permintaan agregat untuk membawa perekonomian ke arah tingkat alami secara lebih cepat. Guncangan penawaran yang memperburuk (adverse supply shock) menggeser kurva SRAS ke atas, tetapi Bank Sentral mengakomodasi guncangan itu dengan meningkatkan AD, yang mengakibatkan tingkat harga yang lebih tinggi secara permanen, tetapi tidak ada perubahan output.

Ch. 10 : Aggregate Demand I

Keynesian Cross (Perpotongan Keynesian) : a simple closed economy model in which income is determined by expenditure.

Notation:
I = planned investment
E = C + I + G = planned expenditure
Y = real GDP = actual expenditure
Difference between actual & planned expenditure = unplanned inventory investment

Elements of the Keynesian Cross:
– Consumption function:   C = C (Y – T)
– Govt. policy variables:   G = G*, T = T* Note: * means exogenous variables
– Planned investment :      I = I* (for now)
– Planned expenditure :    E = C (Y – T*) + I* + G*
– Equilibrium condition:    actual expenditure = planned expenditure
or                                                                Y         =         E

The government purchases multiplier –> the increase in income resulting from a $1 increase in G.

change in Y / change in G = 1 / 1- MPC

The tax multiplier –> the change in income resulting from a $1 increase in T.

change in Y / change in T = – MPC / 1 – MPC

The tax multiplier
… is negative : a tax increase reduces C, which reduces income.
… is greater than one (in absolute value) : a change in taxes has a multiplier effect on income.
… is smaller than the govt. spending multiplier : concumers save the fraction (1-MPC) of a tax cut. so the initial boost in spending from a tax cut is smaller than from an equal increases in G.

The IS Curve –> a graph of all combinations of r and Y that result in goods market equilibrium.

i.e.       actual expenditure (output) = planned expenditure

The equation for the IS curve is:

Y = C (Y-T*) + I (r) + G*

Menurunkan kurva IS
(a) Fungsi Investasi: kenaikan tingkat bunga dari r1 ke r2 mengurangi jumlah investasi yang direncanakan dari I(r1) ke I(r2).
(b) Perpotongan Keynesian: Penurunan investasi yang direncanakan menggeser fungsi pengeluaran yang direncanakan ke bawah sehingga tingkat pendapatan turun dari Y1 ke Y2.
(c) Kurva IS: meringkas hubungan antara tingkat bunga dan pendapatan (semakin tingkat bunga, semakin rendah tingkat pendapatan).

Jadi, kurva IS menunjukkan kombinasi dari tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan ekuilibrium dalam pasar barang dan jasa. Kurva IS digambar untuk kebijakan fiskal tertentu. Perubahan-perubahan kebijakan fiskal yang meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa akan menggeser kurva IS ke kanan. Perubahan-perubahan kebijakan fiskal yang mengurangi permintaan terhadap barang dan jasa akan menggeser kurva IS ke kiri.

Kenaikan Belanja Pemerintah (Kebijakan Fiskal) Menggeser Kurva IS ke Kanan
1. Kenaikan pembelian pemerintah menggeser pengeluaran yang direncanakan ke atas sebesar delta G (change in G),
2. yang meningkatkan pendapatan sebesar = delta G / 1 – MPC
3. dan menggeser kurva IS ke kanan sebesar = delta G / 1 – MPC

Interpretasi Dana Pinjaman dari Kurva IS
(a) Pasar Dana Pinjaman: kenaikan pendapatan dari Y1 ke Y2 meningkatkan tabungan dan menurunkan tingkat bunga yang menyeimbangkan penawaran serta permintaan terhadap dana pinjaman.
(b) Kurva IS: menunjukkan hubungan negatif antara pendapatan serta tingkat bunga. Kurva IS meringkas perubahan ekuilibrium pasar barang ini.

Pasar Uang dan Kurva LM

Teori Preferensi Likuiditas
Penawaran dan permintaan terhadap keseimbangan uang riil menentukan tingkat bunga. Kurva penawaran untuk keseimbangan uang riil adalah vertikal karena penawaran tidak tergantung pada tingkat bunga. Kurva permintaan miring ke bawah karena tingkat bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya memegang uang dan menurunkan kuantitas yang diminta sama dengan jumlah penawarannya.

Penurunan jumlah uang yang beredar dalam teori preferensi likuiditas: Jika tingkat harga tetap, penurunan jumlah uang yang beredar dari M1 ke M2 mengurangi penawaran keseimbangan uang riil (M/P). Karena itu tingkat bunga ekuilibrium naik dari r1 ke r2.

Menurunkan Kurva LM
(a) Pasar untuk Real Money Balance (Keseimbangan Uang Riil) : kenaikan pendapatan dari Y1 ke Y2 meningkatkan permintaan uang, dan dengan demikian menaikkan tingkat bunga dari r1 ke r2.
(b) Kurva LM : meringkas hubungan antara tingkat bunga dan pendapatan ini (semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin tinggi tingkat bunga). Kurva LM meringkas perubahan ekuilibrium pasar uang.

Penurunan Jumlah Uang yang Beredar (Kebijakan Moneter) Menggeser Kurva LM ke Atas
(a) Pasar Keseimbangan Uang Riil: untuk setiap tingkat pendapatan Y*, penurunan jumlah uang yang beredar (M1/P ke M2/P)  mendongkrak tingkat bunga yang menyeimbangkan pasar uang (r1 ke r2).
(b) Kurva LM: bergeser ke atas (LM1 ke LM2).

Secara ringkas, kurva LM menunjukkan kombinasi tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan ekuilibrium dalam pasar keseimbangan uang riil. Kurva LM digambar untuk penawaran keseimbangan uang riil tertentu. Penurunan dalam penawaran keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke atas. Kenaikan dalam penawaran keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke bawah.

Ekuilibrium dalam Model IS-LM
Perpotongan kurva IS dan LM menunjukkan ekulibrium simultan dalam pasar barang dan jasa dan dalam pasar keseimbangan uang riil untuk nilai pengeluaran pemerintah, pajak, jumlah uang beredar, dan tingkat bunga tertentu.

Y = C (Y-T) + I (r) + G                   IS,
M/P = L (r,Y)                                  LM.

Teori Fluktuasi Ekonomi Jangka Pendek

  • Perpotongan Keynesian menjelaskan kurva IS, dan teori Preferensi Likuiditas menjelaskan kurva LM.
  • Kurva IS dan LM bersama-sama menghasilkan model IS-LM, yang menjelaskan kurva permintaan agregat.
  • Kurva permintaan agregat adalah bagian dari model penawaran agregat dan permintaan agregat, yang digunakan para ekonom untuk menjelaskan fluktuasi aktivitas ekonomi jangka pendek.

Ch. 11: Aggregate Demand II

Policy analysis with the IS-LM model
Y = C (Y-T) + I (r) + G
M/P = L (r,Y)
We can use the IS-LM model to analyze the effects of:
– fiscal policy : G and/or T
– monetary policy : M

Kebijakan Fiskal Menggeser Kurva IS dan Mengubah Ekuilibrium Jangka Pendek

  • Perubahan Belanja Pemerintah (G)
    1. Ketika pemerintah meningkatkan belanjanya atas barang dan jasa, planned expenditure akan naik. Kenaikan planned expenditure ini akan mendorong produksi barang & jasa, yang menyebabkan pendapatan total Y meningkat.
      change in Y = change in G / 1- MPC
    2. Sekarang perhatikanlah pasar uang, sebagaimana dijelaskan oleh teori preferensi likuiditas. Karena permintaan uang bergantung pada pendapatan, kenaikan pendapatan total Y meningkatkan jumlah uang yang diminta pada setiap tingkat bunga. Akan tetapi, jumlah uang yang beredar tidak berubah, sehingga permintaan uang yang lebih tinggi menyebabkan tingkat bunga ekuilibrium r naik.
    3. Tingkat bunga yang lebih tinggi yang muncul di pasar uang akan memiliki jalur balik di pasar barang. Ketika bunga naik, perusahaan mengurangi rencana investasinya. Penurunan investasi ini sebagian mengurangi dampak ekspansif dari kenaikan belanja pemerintah. Jasi, kenaikan pendapatan dalam menganggapi ekspansi fiskal adalah lebih kecil dalam model IS-LM daripada dalam perpotongan Keynesian (di mana investasi diasumsikan tetap). Perbedaan itu dijelaskan oleh desakan investasi (crowding out of investment) yang diakibatkan oleh tingkat bunga yang lebih tinggi.
  • Perubahan Pajak (T)
    1. Pajak mempengaruhi pengeluaran melalui konsumsi. Misalnya, penurunan pajak sebesar delta T. Pemotongan pajak mendorong konsumen untuk berbelanja lebih banyak dan karena itu, meningkatkan planned expenditure. Tax multiplier dalam perpotongan Keynesian menyatakan bahwa, pada tingkat bunga berapapun, perubahan kebijakan ini menaikkan tingkat pendapatan sebesar:
      change in Y = (change in T x MPC) / (1-MPC)
      Karena itu, IS bergeser ke kanan sebesar jumlah ini.
    2. Pemotongan pajak menaikkan pendapatan dan tingkat bunga.
    3. Karena tingkat bunga yang lebih tinggi mengurangi investasi, kenaikan pendapatan dalam model IS-LM lebih kecil daripada kenaikan pendapatan dalam perpotongan Keynesian.

Kebijakan Moneter Menggeser Kurva LM dan Mengubah Ekuilibrium Jangka Pendek

  • Kenaikan Jumlah Uang yang Beredar (M)
    1. Diawali dengan pasar uang, di mana penetapan kebijakan moneter terjadi. Ketika Bank Sentral meningkatkan jumlah uang yang beredar (M), masyarakat mempunyai uang lebih banyak dari yang mereka ingin pegang pada tingkat bunga yang berlaku (prevailing interest rate). Akibatnya, mereka mendepositokan uangnya di bank atau menggunakannya untuk membeli obligasi.
    2. Tingkat bunga r kemudian turun sampai masyarakat bersedia memegang seluruh kelebihan uang yang dicetak Bank Sentral; hal ini membawa pasar uang ke ekuilibrium baru.
    3. Tingkat bunga yang lebih rendah, akan memiliki dampak ke pasar barang. Tingkat bunga yang lebih rendah mendorong investasi yang direncanakan, yang meningkatkan planned expenditure, produksi, dan pendapatan Y.

Jadi, model IS-LM menunjukkan bahwa kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan dengan mengubah tingkat bunga. Dalam jangka pendek, ketika harga bersifat kaku, ekspansi jumlah uang beredar meningkatkan pendapatan. Tetapi kita tidak membahas bagaimana ekspansi moneter mendorong terjadinya pengeluaran yang lebih besar atas barang dan jasa – sebuah proses yang disebut mekanisme transmisi moneter (monetary transmission mechanism). Model IS-LM menunjukkan bagian terpenting dari mekanisme: kenaikan jumlah uang beredar menurunkan tingkat bunga, yang mendorong investasi serta memperbesar permintaan terhadap barang dan jasa.

Kurva permintaan agregat (AD) meringkas hasil dari model IS-LM dengan menunjukkan pendapatan ekuilibrium pada setiap tingkat harga. Kurva AD miring ke bawah karena tingkat harga yang lebih rendah meningkatkan keseimbangan uang riil, mengurangi tingkat bunga, mendorong pengeluaran investasi, dan meningkatkan pendapatan ekuilibrium.

Kebijakan fiskal ekspansioner – kenaikan belanja pemerintah atau penurunan pajak – menggeser kurva IS ke kanan. Pergeseran dalam kurva IS ini meningkatkan tingkat bunga dan pendapatan. Kenaikan pendapatan menunjukkan pergeseran ke kanan dalam kurva AD. Demikian pula, kebijakan fiskal kontraktif menggeser kurva IS ke kiri, menurunkan tingkat bunga dan pendapatan, serta menggeser kurva AD ke kiri.

Kebijakan moneter ekspansioner menggeser kurva LM ke bawah. Pergeseran dalam kurva LM ini menurunkan tingkat bunga dan meningkatkan pendapatan. Kenaikan pendapatan menunjukkan pergeseran ke kanan dari kurva AD. Demikian pula, kebijakan moneter kontraktif menggeser kurva LM ke atas, meningkatkan tingkat bunga, dan menurunkan pendapatan, dan menggeser kurva permintaan agregat ke kiri.

Ch.12 The Open Economy Revisited

Model Mundell-Fleming adalah model IS-LM untuk perekonomian terbuka kecil. Model itu menganggap tingkat harga adalah tertentu (given) dan kemudian menunjukkan apa yang menyebabkan fluktuasi dalam pendapatan dan kurs.

Model Mundell-Fleming menunjukkan bahwa kebijakan fiskal tidak mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs mengambang. Ekspansi fiskal menyebabkan mata uang berapresiasi, yang menurunkan ekspor neto dan menghapus dampak ekspansioner terhadap pendapatan agregat. Kebijakan fiskal mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs tetap.

Model Mundell-Fleming menunjukkan bahwa kebijakan moneter tidak mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs tetap. Setiap upaya untuk memperbesar jumlah uang beredar akan menjadi percuma, karena jumlah uang beredar harus disesuaikan untuk menjamin bahwa kurs tetap berada pada tingkat yang diumumkan. Kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs mengambang.

Jika investor merasa tidak aman memegang aset dalam sebuah negara, tingkat bunga di negara itu melebih tingkat bunga dunia sebesar premi resiko. Menurut model Mundell-Fleming, kenaikan premi resiko menyebabkan tingkat bunga naik dan mata uang negara itu terdepresiasi.

Kurs tetap dan kurs mengambang, masing-masing, memiliki keunggulan. Kurs mengambang membuat para pembuat kebijakan moneter bebas mengejar tujuan-tujuan selain stabilitas kurs. Kurs tetap menurunkan sebagian dari ketidakpastian dalam transaksi bisnis internasional. Ketika memutuskan rezim kurs apa yang akan digunakan, pembuat kebijakan dibatasi oleh kenyataan bahwa mustahil bagi suatu negara untuk menetapkan sekaligus aliran modal bebas, kurs tetap dan kebijakan moneter independen.

Ch. 13 Aggregate Supply

Tiga teori AS:

  1. Sticky-wage model (model upah kaku)
  2. Imperfect-information model (model informasi tak sempurna)
  3. Sticky-price model (model harga kaku)

Ketiganya mencirikan penyimpangan output dan kesempatan kerja dari tingkat alamiah untuk berbagai ketidaksempurnaan pasar. Menurut ketiga teori itu, output meningkat di atas tingkat alamiah ketika harga melebihi tingkat harga yang diharapkan, dan output turun di bawah tingkat alamiah ketika tingkat harga lebih kecil dari tingkat harga yang diharapkan.

Para ekonom sering menampilkan penawaran agregat dalam hubungan yang disebut kurva Philips. Kurva Philips menyatakan bahwa inflasi tergantung pada inflasi yang diharapkan (expected inflation), penyimpangan pengangguran dari tingkat alamiah, dan guncangan penawaran. Menurut kurva Philips, para pembuat kebijakan yang mengendalikan perminataan agregat menghadapi tradeoff jangka pendek antara inflasi dan pengangguran.

Jika inflasi yang diharapkan tergantung pada inflasi yang baru-baru ini diamati, inflasi memiliki inersia (inertia), yang berarti bahwa, menurunkan inflasi membutuhkan baik guncangan penawaran yang menguntungkan maupun periode inflasi tinggi dan penurunan output. Namun demikian, jika orang-orang memiliki ekspektasi rasional, pengumuman adanya perubahan kebijakan yang bisa dipercaya mampu mempengaruhi ekspektasi secara langsung dan, karena itu, menurunkan inflasi tanpa menyebabkan resesi.

Kebanyakan ekonom menerima hipotesis tingkat alamiah, yang menyatakan bahwa fluktuasi dalam permintaan agregat hanya mempunyai dampak jangka pendek terhadap output dan pengangguran. Namun sebagian ekonom menyarankan cara-cara di mana resesi bisa meninggalkan luka permanen pada perekonomian dengan meningkatkan tingkat pengangguran alamiah.

# Ricardian View #

Menurut pandangan Ricardian atas utang pemerintah, pemotongan pajak yang didanai oleh utang tidak mendorong pengeluaran konsumen karena tidak meningkatkan keseluruhan sumber daya konsumen – pemotongan pajak itu hanya menjadwal-ulang pajak dari saat ini ke masa depan. Perdebatan antara pandangan tradisional dan pandangan Ricardian atas utang pemerintah pada akhirnya merupakan perdebatan tentang bagaimana konsumen berperilaku. Apakah konsumen rasional, atau berpandangan pendek? Apakah mereka menghadapi batasan dalam meminjam? Apakah mereka secara ekonomi dihubungkan dengan generasi masa depan melalui warisan? Pandangan ekonom atas utang pemerintah bergantung pada jawaban mereka atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Ringkasan dari buku : Makroekonomi Ed.6, N. Gregory Mankiw

All blessings,

Stephani Debora

4 thoughts on “Review Makro 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s