Janji Pertemuan dengan Cinta


Image

Jam enam kurang enam menit, kata jam bundar besar di atas meja informasi di Grand Central Station. Letnan Angkatan Darat bertubuh jangkung dan muda usia yang baru datang dari arah rel kereta mengangkat wajahnya yang terbakar matahari, dan matanya memicing untuk melihat waktu yang tepat. Jantungnya berdebar keras sehingga mengejutkannya karena ia tak dapat mengendalikannya. Enam menit lagi, ia akan bertemu dengan wanita yang telah mengisi tempat istimewa dalam hidupnya selama 13 bulan ini, wanita yang belum pernah ia lihat, tapi yang kata-kata tertulisnya telah menemaninya dan senantiasa menabahkan hatinya.

Ia berdiri sedekat mungkin ke meja informasi, sedikit di luar lingkaran orang yang mengerumuni petugas …

Letnan Blandford teringat suatu malam tertentu, saat pertempuran tersengit, saat pesawatnya terperangkap di tengah sekelompok kaum Zero. Ia melihat wajah salah seorang pilot musuh yang menyeringai.

Dalam salah satu suratnya, ia mengaku pada sahabat penanya bahwa ia sering merasa takut, dan hanya beberapa hari sebelum pertempuran ini, ia menerima jawaban surat darinya: “Tentu saja kamu takut … semua pria pemberani pun begitu. Bukankah Raja Daud juga mengenal takut? Karena itulah dia menulis Mazmur 23. Lain kali, saat kamu meragukan dirimu, aku ingin kamu mendengar suaraku membacakan ini untukmu “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”. Dan ia ingat; ia mendengar khayalan suaranya, dan suara itu memperbaharui kekuatan dan keterampilannya.

Sekarang ia akan mendengar suara aslinya. Pukul enam kurang empat. Wajahnya semakin tegang.

Di bawah atap luas berbintang, orang lain berjalan bergegas, seperti benang-benang berwarna dianyam ke dalam jaring-jaring kelabu. Seorang gadis mendekatinya, dan Letnan Blandford tersentak. Gadis itu memakai sebuah bunga merah pada kelepak jasnya, tapi bunganya adalah bunga buncis merah, bukan mawar merah kecil yang sudah mereka sepakati. Lagipula, gadis itu terlalu muda, sekitar 18, sedangkan Hollis Meynell sudah sejujurnya mengatakan bahwa ia berumur 30. “Memangnya kenapa?” ia menjawab waktu itu. “Aku 32.” Padahal, usianya baru 29.

Pikirannya kembali kepada buku itu — buku yang pasti ditaruh sendiri oleh Tuhan ke dalam tangannya dari antara ratusan buku perpustakaan Angkatan Darat yang dikirim ke kamp latihan Florida. Of Human Bondage, judulnya; dan di seluruh buku itu ada catatan yang ditulis dengan tulisan wanita. Ia selalu membenci kebiasaan mencorat-coret buku, tapi kata-kata ini berbeda. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang wanita dapat memandang ke dalam hati seorang pria dengan begitu lembut, begitu pengertian. Namanya ada pada sampul buku: Hollis Meynell. Ia mencari buku telepon New York City dan menemukan alamatnya. Ia menyuratinya, dan wanita itu membalas. Hari berikutnya ia dikirim pergi, tapi mereka melanjutkan surat-menyurat.

Selama 13 bulan, wanita itu dengan setia membalas, dan lebih dari sekadar membalas. Saat surat si letnan tidak tiba, wanita itu tetap menulis dan sekarang si letnan yakin bahwa ia mencintai wanita itu dan wanita itu mencintainya.

Tapi, wanita itu menolak semua permintaannya untuk mengirimkan fotonya. Tentu saja hal tersebut kurang baik. Tapi ia menjelaskan: “Kalau perasaanmu terhadapku sungguh-sungguh, berdasarkan ketulusan hati, wajahku tidak akan menjadi masalah. Misalnya aku memang cantik. Aku akan selalu dihantui perasaan bahwa kamu mengambil keputusan berdasarkan hal itu, dan cinta semacam itu membuatku jijik. Misalkan aku biasa-biasa saja (dan kamu harus mengakui bahwa ini lebih mungkin). Lalu aku akan selalu cemas bahwa kamu terus menyuratiku karena kamu kesepian dan tak punya orang lain. Jangan, jangan minta fotoku. Kalau kamu datang ke New York, kamu bisa menemuiku, lalu kamu dapat mengambil keputusan. Ingat, kita berdua bebas untuk menghentikan atau melanjutkan persahabatan kita — apa pun yang kita pilih …”

Pukul enam kurang satu — ia mengisap rokoknya dalam-dalam.

Lalu, hati Letnan Blandford meloncat lebih tinggi dari yang pernah dilakukan pesawatnya.

Seorang wanita muda melangkah ke arahnya. Tubuhnya tinggi dan ramping; rambut pirangnya mengikal dari telinganya yang indah. Matanya biru bagai bunga, bibir dan dagunya memiliki ketegasan yang lembut. Dalam pakaian hijau pucat, ia seperti penjelmaan masa musim semi.

Ia melangkah ke arah wanita itu, benar-benar lupa melihat bahwa si wanita tidak memakai bunga mawar, dan saat ia bergerak, sebuah senyuman kecil menantang melengkungkan bibirnya.

“Awas tertabrak, bung?” gumamnya.

Dengan tak terkendalikan, ia melangkah selangkah mendekatinya. Lalu ia melihat Hollis Meynell.

Wanita itu berdiri hampir tepat di belakang gadis tadi, seorang wanita berusia jauh di atas 40, rambutnya yang beruban dimasukkan di bawah topi tua. Tubuhnya lebih dari gemuk; pergelangan kakinya dijejalkan ke dalam sepatu hak rendah. Tapi, ia mengenakan mawar merah pada kelepak kusut jaket coklatnya.

Gadis berpakaian hijau tadi telah bergegas pergi.

Blandford merasa seakan terbelah dua, begitu kuat hasratnya untuk mengikuti si gadis, tapi begitu dalam kerinduannya pada wanita yang jiwanya telah menemani dan menjunjung jiwanya; dan wanita itu berdiri di depannya. Wajahnya yang montok pucat terlihat lembut dan bijak; ia dapat melihatnya sekarang. Mata kelabunya berkelip hangat dan ramah.

Letnan Blandford tidak ragu-ragu. Jarinya mencengkeram buku kecil Of Human Bondage yang berkulit biru dan sudah usang, yang menjadi ciri-cirinya untuk si wanita. Ini tak akan menjadi cinta, tapi akan menjadi sesuatu yang berharga, sesuatu yang lebih langka daripada cinta — persahabatan yang telah dan selalu akan disyukuri olehnya.

Ia menegakkan bahunya yang lebar, memberi hormat, dan menyodorkan buku itu pada si wanita, meskipun selagi ia bicara, ia merasa kaget oleh kepahitan rasa kecewanya.

“Saya Letnan John Blandford dan Ibu — Ibu adalah Bu Meynell. Saya senang kita bisa bertemu. Bolehkah… bolehkah saya mengajak Ibu makan malam?”

Wajah wanita itu melebarkan senyuman sabar. “Ibu tak tahu ini masalah apa, nak,” jawabnya. “Wanita berbaju hijau — yang baru saja lewat — memohon Ibu agar mengenakan mawar ini pada baju Ibu. Dan katanya, kalau kamu mengajak Ibu makan, Ibu harus memberi tahu, dia menunggumu di rumah makan besar di seberang jalan. Katanya ini semacam ujian. Ibu sendiri punya dua putra yang jadi tentara, jadi Ibu tak berkeberatan menolongmu.”

-Sulamith Ish-KishorA 3rd Serving of Chicken Soup for the Soul

MENGHARGAI DIRINYA SENDIRI


Kita harus membuka kesadaran bahwa betapa hebat makhluk yang disebut manusia itu. Kalau kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri, maka kita tidak bisa menerima karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Karya keselamatan Allah pada dasarnya merupakan tindakan Tuhan yang menunjukkkan betapa berharganya manusia di mata Tuhan. Orang yang tidak menghargai dirinya dengan benar tidak akan bisa diajak bekerja sama dengan Tuhan untuk menyelamatkan jiwanya, sebab ia tidak peduli bahwa Allah menginginkan ia dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Dalam hal ini manusia harus sepikiran dengan Tuhan, bahwa manusia berharga di mata-Nya. Keberhargaan kita harus didasarkan pada kenyataan bahwa di dalam diri kita ada roh dari Allah.

Setiap orang percaya harus menyadari sedalam-dalamnya bahwa di dalam dirinya Allah memberikan roh dari-Nya yang sangat berharga. Tuhan mengingini roh dari diri-Nya tersebut kembali kepada-Nya (Pkh. 12:7). Roh itu terbelenggu tidak berdaya didesak oleh dua pihak. Pihak pertama yang mendesaknya adalah kodrat dosa, sebab semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang hidup di bawah kuasa dosa tidak mungkin bisa berkenan kepada-Nya (Rm. 8:8).

Oleh karena itulah Tuhan Yesus berkata, “Roh memang penurut, tetapi daging lemah”. Di sini kata “penurut” aslinya adalah Πρόθυμος (prόthymos) yang berarti “bersedia; ingin sekali”; sedangkan “lemah” aslinya ditulis άσθενής (asthenés) yang berarti “tanpa kekuatan; sakit; loyo; tidak berdaya”.

Pihak kedua yang mendesak roh manusia adalah pengaruh dunia jahat di sekitar kita, yang terlanjur mewarnai jiwa manusia. Jika jiwa yang mengendalikan seluruh hidup manusia memuat isi yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka seluruh kelakuan hidup orang itu pun pasti rusak. Perbaikan karakter dari aspek jiwa—yang sekarang dikerjakan oleh masyarakat modern—hanya membuat orang baik, tetapi tidak membuat orang dikenan Tuhan. Yang dikenan-Nya adalah orang yang hidup menurut roh, sebab kehendak roh sama dengan kehendak Bapa.

Oleh sebab itu setelah kita menerima Kristus, jiwa kita harus terus-menerus diperbarui oleh Firman-Nya. Roh manusia menjadi lemah kalau jiwanya tidak dipenuhi dengan kebenaran Tuhan. Roh di dalam diri manusia itu sendiri akan menjadi kuat kalau isi jiwanya diubah. Tidak ada cara lain agar roh manusia dapat menguasai jiwa dan jiwa mengendalikan kehidupan, selain dengan menguduskannya dengan kebenaran Firman Kristus (Yoh. 17:17). Itu juga penghargaan atas diri kita sendiri.

Jika kita menghargai diri kita sendiri, kita akan giat memperbarui jiwa kita dengan Firman Tuhan agar roh kita juga menjadi kuat.

Sola Gracia.

Disadur dari:  Surat Gembala Rehobot Ministry Edisi ke-656/03 Februari 2013

How to Success


ImageMenatap tema ini ada kegelisahan dalam hati, mengertikah orang-orang mengenai apa yang dimaksud dengan sukses itu. Sama seperti kalau seseorang hendak menuju suatu tujuan, misalnya ke kota Bogor. Masalah utamanya bukan bagaimana menuju kota Bogor atau mencapai kota itu, tapi tahukah di mana dan bagaimana kota kota Bogor itu. Jangan sampai kota Tangerang dibilang kota Bogor. Tentu saja setiap orang selalu menginginkan sukses, dan terus berjuang untuk mencapainya sampai akhir hayatnya. Tetapi persoalnannya adalah apa yang dimaksud sukses itu dan bagaimana meraihnya. Untuk memahami apa sukses itu, kita harus mulai dengan apa yang sebenranya dibutuhkan manusia. Di sini terjadi benturan konsepsi. Tergantung filosofi hidup orang itu. Filosofi seseorang ditentukan apa yang mengisi jiwanya.

ImageJadi pengertian sukses seseorang sangat relatif, yaitu tergantung filosofi hidupnya. Orang yang memandang materi sebagai nilai tertinggi kehidupan, menjadi orang kaya berarti suatu kesuksesan. Orang yang memandang nilai akademis sebagai ukuran suksesnya, meraih gelar berarti suatu keberhasilan. Orang yang memandang kehormatan sebagai nilai tertinggi kehidupan, bila menjadi seorang yang terhormat dalam gelanggang politik, pemerintahan, dan berbagai bidang hidup akan merasa diri sukses dan lain sebagainya.

 Sukses bukan saja relatif tetapi juga bergerak, artinya biasanya orang tidak merasa puas pada suatu level, ia akan selalu bergerak untuk meraih level yang lebih tinggi. Pada mulanya merasa sukses kalau sudah menjadi sarjana (S1), tetapi ketika melihat orang lain memiliki gelar Master (S2), ia merasa belum sukses sebelum meraih gelar Master dan selanjutnya. Orang merasa sukses ketika memiliki penghasilan 50 juta rupiah per bulan. Tetapi ketika memiliki peluang bisa mengumpulkan uang lebih dari itu, maka ia tidak akan puas dengan jumlah uang tersebut. Ia mengingini jumlah uang yang lebih besar lagi, sampai akhirnya pengertiannya menjadi gelap, sehingga tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, citra diri dan kepantasan.

Dalam hal ini kita tidak boleh menyamakan pengertian sukses menurut anak-anak Tuhan yang diajar berdiri di atas kebenaran Alkitab dengan mereka yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan. Menurut dunia, sukses adalah bila dapat menikmati dunia sebanyak mungkin. Dunia disini artinya segala kekayaan, kehormatan dan berbagai fasilitas hidup materi. Bila meningkat jumlah hartanya maka itu tanda-tanda sukses (Lukas 12:18-21). Bila meningkat jumlah penghormatan yang diterima dari manusia itu adalah tanda-tanda sukses. Tetapi anak-anak Tuhan memiliki tanda sukses yang berbedal. Tanda sukses anak Tuhan adalah: hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan pengabdian kepada-Nya (Filipi 1:21). Inilah maksud Tuhan menciptakan manusia. Oleh sebab itu kita tidak boleh membawa konsep sukses menurut dunia ke wilayah anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan harus mengalami pembaharuan pikiran sehingga arah hidupnya benar. Konsep sukses yang salah akan membinasakan hidup seseorang.

Sangat mengejutkan ternyata terdapat banyak orang Kristen yang tidak memiliki sasaran yang jelas dalam hidup ke-Kristenannya. Ini berarti dalam kehidupan ini ia tidak memiliki arah yang jelas. Rasul Paulus dalam suratnya berkata: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” (1 Kor 9:26). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan ia tahu persis finish-nya, ia tahu kemana seharusnya ia melangkah. Untuk itu arah sangat penting. Bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya tetapi juga arah langkahnya.

Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang luar biasa artinya sesuatu yang harus digumuli secara serius. Pergumulan itu bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama naik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan dunia, yang pada umumnya dipahami secara kesuksesan tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar. Seseorang yang hidupnya sudah benar harus tetap bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus berkata: “..aku melupakan apa yang telah di belakangku dab mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” (Filipi 3:13-14). Dalam pernyataannya ini kita menemukan kembali sikap hidup Paulus yang menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang bertujuan jelas. Perhatikan perkataannya “berlari-lari kepada tujuan..”. Untuk ini sejenak kita patut merenungkan kembali hidup kita ini apakah arah hidup kita ini sudah benar. Dari hari ke hari kita melangkah dalam kepadatan kesibukan dan tugas, coba kita periksa kemana arah hidup kita sebenarnya. Sukses bagaimanakah yang sedang didamba?

Hendaknya kita tidak merasa gagal hanya karena belum memiliki apa yang dunia hari ini tawarkan pada kita. Juga jangan merasa sudah berhasil karena memiliki segala fasilitas. Kalau kita merasa kurang berkenan dengan materi maka seseorang tidak dapat beribadah kepada Tuhan. Alkitab berkata: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (1 Timotius 6:6). Kata cukup dalam teks aslinya adalah autarkeias, yang dapat diterjemahkan contentment atau sufficiency, merasa cukup atau puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kita harus merasa bahwa klimaks puas kita adalah ketika kita sampai di rumah Bapa menerima mahkota abadi (2 Timotius 4:8). Tidak ada sukses yang lebih besar dari ini.

Akhirnya bagaimana kita dapat mencapai sukses yaitu kalau kita mengikuti jejak Tuhan Yesus (Matius 16:24). Memikul salib, adalah proses menuju kematian. Justru ketika kita mematikan cita-cita yang bertensi kepada kebanggaan diri dan kesenangan dunia, maka itulah jalan menuju sukses. Ciri-ciri orang sukses antara lain:

Pertama, dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuh yang fana ini. Ini adalah hukum terpenting dalam hidup ke-Kristenan. Kesediaan untuk ini merupakan hal utama, itulah sebabnya kita memberi diri dibabtis. Dalam babtisan tersebut kita menguburkan cara hidup kita yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru (Roma 6:1-4). Dalam hal ini kita menemukan bahwa pengertian kesucian dalam ke-Kristenan bukan sekedar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Ini berarti mengenakan kodrat ilahi (2 Petrus 1:3-4). Mengenakan kodra ilahi sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibrani 12:9-10). Kodrat ilahi sejajar dengan kekudusan Allah. Orang yang mengenakan kodrat ilahi adalah orang yang memiliki kekudusan Allah. Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan agar kita harus sempurna seperti Bapa artinya agar kita mengenakan kodrat ilahi. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya teks aslinya adalah theias koinoonoi phuseous, kalimat ini hendak menunjuk pribadi yang ber”associate” dengan Allah. Ini adalah pribadi yang pikiran dan perasaannya selalu berelasi atau kontak dengan Allah terus menerus (to contact or bring into relation, as thought, feeling). Pribadi yang telah memiliki kualitas hidup seperti ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah model atau prototype manusia yang dikehendaki Allah untuk dikenakan setiap umat pilihan dalam hidup ini. Injil-lah tujuan hidup yang harus digumuli dan harus diraih.

Orang yang mengenakan kodrat ilahi adalah orang-orang yang berpikir sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Allah. Tentu saja dengan kualitas berpikir dan berperasaan seperti ini, seseorang dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ia melakukan kehendak Allah bukan karena suatu tekanan perintah atau kewajiban tetapi sudah menjadi suatu nature yang otomatis bergerak dalam hidupnya (not to do but to be). Untuk mencapai taraf atau level seperti ini seseorang harus melalui proses pendewasaan atau pemuridan yang panjang, yaitu sepanjang umur hidupnya.

Ke dua, hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan. Anak-anak Tuhan harus memiliki kesadaran bahwa tidak ada lagi bagian hidupnya yang digunakan untuk kepentingannya sendiri. Baginya hidup bagi Tuhan bukanlah sebuah kewajiban tetapi kebutuhan. Hidup bagi Allah Bapa atau kepentingan kerajaan Allah adalah gaya hidup Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan gaya hidup seperti ini dalam pernyataan-Nya: “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa” (Yohanes 4:34). Dalam terjemahan lain diterjemahkan, “Adapun rezeki-Ku, yaitu melakukan kehendak Dia”. Dalam pernyataan yang lain Paulus berkata: “dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10). Kalimat “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (being made conformable unto His death) artinya mati seperti Tuhan Yesus mati. Kematian macam apakah yang dimiliki Tuhan? Tentu kematian di atas kayu salib. Ia menderita bukan karena kesalahan-Nya, bukan karena membela ambisi-Nya tetapi untuk kepentingan semua orang yang berdosa.

Kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak berhak ada. Kalau kita bisa mengadakan diri kita sendiri, maka kita berhak memiliki keinginan sesuka kita sendiri tetapi ternyata kita tidak bisa membuat diri kita ada. Tuhan yang mengadakannya, maka Tuhanlah yang harus berhak sepenuhnya atas diri kita. Maka kita harus berani berkata dengan tegas: God doesn’t exist for me, I exist for The Lord. Orang percaya yang benar akan berusaha untuk belajar tidak berhak memiliki suatu keinginan. Segala keinginannya haruslah sesuai dengan kehendak Bapa. Orang percaya yang benar akan melayani Tuhan dengan segenap hidup, sehingga semua orang percaya menjadi fulltimer bagi Allah.

Ke tiga, mengarahkan sepenuh kepada perwujudan fisik Kerajaan Allah. Untuk turut mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi, setiap orang harus mengoptimalkan potensi yang ada. Mengoptimalkan potensi berarti mengembangkan semua bakat dan kapasitas diri tanpa batas dalam berbagai bidang kehidupan. Sesungguhnya inilah pelayanan tersebut. Berbicara mengenai panggilan pelayanan, ini menunjuk kepada sesuatu yang datang dari luar, dalam hal ini Tuhan sebagai “pemanggilnya”, yaitu dipanggil untuk melayani Dia. Manusia memikul tanggung jawab untuk memilih suatu profesi dan bertanggung jawab atas profesi yang dipilihnya yaitu dengan mengusahakan agar mencapai hasil yang maksimal.

Seseorang mau tidak mau akan menempatkan dirinya pada pekerjaan tertentu sebagai upaya untuk mencari nafkah dan kelangsungan hidupnya. Bagi manusia yang berada di lingkungan kota dan hidup pada peradaban modern, sejak dini mulai menjuruskan dirinya pada pendidikan tertentu yang akan menentukan jabatannya kelak di kemudian hari. Oleh sebab itu, hal profesi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya.

Pekerjaan kita haruslah tempat di mana kita dapat mengabdi bagi kerajaan Allah. Anak-anak Tuhan memiliki dan memikul tanggung jawab atas profesi yang dipilihnya. Mengingat hal ini maka hendaknya kita memikirkan dan memperhatikan benar-benar hal pemilihan profesi tersebut. Dalam pemilihan profesi yang kita lakukan, kita tidak boleh melupakan rencana Allah atas hidup kita masing-masing. Dalam memilih suatu profesi kita harus bertanya kepada Tuhan, “Di manakah dan dengan cara bagaimanakah aku harus mengabdi kepadaMu Tuhan?”

Semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan atau pekerjaan rohani bila dilakukan dengan motivasi bagi kemuliaan Tuhan. Pembedaan profesi harus dilihat bukan karena jenis profesi tersebut semata-mata tetapi motivasi terdalam orang melakukan pekerjaan atau memilih profesi tersebut. Dalam profesi yang kita miliki, yang di dalamnya pula kita bergumul dan mengisi hidup, kita berurusan dengan Allah dan Firman-Nya. Selanjutnya perintah Tuhan yang termuat di dalam Firman-Nya harus menerangi seluruh segi hidup kita, juga di dalam profesi yang di dalamnya kita bergumul bekerja. Sehingga tidak ada pemisahan antara kesusilaan pribadi dan kesusilaan profesi. Sebagai warga kerajaan sorga, kita harus tunduk kepada otoritas kebenaran Firman-Nya di manapun kita berada.

Untuk mencapai keberhasilan dalam bidang yang digeluti, seseorang harus giat bekerja. Kita tidak boleh menyerahkan wilayah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Berkat dan penyertaan Tuhan telah sediakan, tetapi kerja keras untuk mengembangkan diri adalah tanggung jawab kita. Berkat dan penyertaan Tuhan tidak berarti banyak tanpa kerja keras masing-masing individu. Untuk itu, ada beberapa saran-saran atau nasihat yang harus ditambahkan untuk mencapai sukses:

Pertama, selalu memperbaharui gairah hidup bagi Tuhan.

Ke dua, menemukan tempat di mana seseorang efektif berguna bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini setiap orang memiliki tempat yang spesifik.

Ke tiga, menyusun jadwal kegiatan secara konsisten dan ketat. Dalam hal ini harus disadari bahwa waktu adalah harta dan sarana yang tidak bisa dibeli tetapi sangat menentukan keberhasilan seseorang.

Ke empat, membuang segala kesibukan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti. Harus belajar berkata TIDAK untuk segala kegiatan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti.

Ke lima, meninggalkan komunitas yang tidak mendukung bidang yang digeluti. Harus diingat bahwa dengan siapa seseorang berkomunitas, maka hal itu sangat memberi warna kehidupan.

Ke enam, memiliki target-target dan rencana kerja yang baik. Tanpa target dan rencana kerja yang baik, banyak kegiatan sia-sia yang tersisipkan dan hal itu akan menumpulkan efektivitas waktu yang tersaji.

Ke tujuh, melakukan evaluasi secara berkala atas hasil atau prestasi yang telah dicapai. Dengan adanya rencana kerja dan target-target yang harus dicapai maka evaluasi menjadi lebih mendesak dilakukan.

Sola Gracia.

Disadur dari: Buletin DM Rehobot Ministry, Pastoral.

CORPUS DELICTI


Pernah timbul pertanyaan yang sulit untuk menemukan jawabnya: Mengapa ketika Lusifer berserta para malaikat yang dihasutnya memberontak kepada Allah, Allah tidak segera membinasakan mereka seketika itu juga dan menghukumnya? Kalau pada waktu mereka memberontak, Allah segera atau seketika itu membinasakan mereka, maka tidak akan ada kejatuhan manusia dalam dosa. Dunia tidak akan menghadapi bencana oleh sepak terjang Lusifer dan para malaikat yang jatuh tersebut.

Dalam kitab Wahyu 12:7-9, dikatakan bahwa malaikat-malaikat Allah-lah yang berperang melawan “naga” yang adalah gamabran Lusifer beserta dengan malaikat-malaikatnya. Mengapa bukan Allah sendiri yang bertindak, tetapi malaikat-malaikat-Nya yang berperang. Sulit dibantah, bahwa terkesan begitu alot untuk dapat menaklukkan Lusifer. Bukankah dengan jentikan jari Allah Bapa bisa memusnahkan Lusifer? Mengapa Ia tidak melakukannya? Memang di kitab Yehezkiel, terdapat catatan seakan-akan atau terkesan Allah langsung membuang Lusifer, tetapi kalau diamati dengan teliti ayat-ayat itu menunjuk ringkasan dari akhir hidup Lusifer. Di dalam ayat-ayat tersebut tidak diungkapkan mekanisme pengusiran tersebut (Yehezkiel 28:16-19).

Ternyata pada akhirnya bukan malaikat-malaikat Allah yang bisa mengalahkan iblis tetapi darah Tuhan Yesus dan perkataan kesaksian mereka yang dikatakan “tidak menyayangkan nyawanya” (ini menunjuk orang percaya yang mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus) (Wahyu 12:11). Pada prinsipnya, jelas sekali bahwa Allah Bapa tidak segera membinasakan Lusifer yang memberontak kepada-Nya. Seakan-akan ada yang menahan Allah bertindak membinasakan Lusifer seketika itu. Jawaban mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer seketika itu, akan dikemukakan panjang lebar dalam tulisan ini di bagian belakang.

Firman Tuhan mengatakan bahwa upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus (Roma 6:23). Kalau Allah dengan mudah mengampuni kesalahan Adam dan Hawa, berarti Ia Allah yang tidak adil, Allah yang tidak tertib, Allah yang tidak memiliki sistem dan aturan. Ternyata Allah adalah Allah yang memiliki integritas yang sempurna. Di dalam diri Allah yang juga merupakan hakekatnya terdapat hukum (rule), sistem, dan aturan. Ia Allah yang tertib. Karena integritas Allah tersebut, maka Allah tidak bertindak sembarangan tanpa aturan.

Dalam kisah Ayub ada satu kebenaran yang lolos dari pengamatan banyak orang. Padahal kebenaran itu justru inti kitab Ayub. Ternyata dalam kisah Ayub, Allah hendak menunjukkan bahwa Ia mencari pembanding untuk menunjukkan keberadaan Lusifer. Satu hal yang harus diperhatikan adalah pernyataan Allah kepada iblis, ketika iblis ada di tengah-tengah anak Allah: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:7; 2:7). Tentu yang dilakukan Allah ini bukan sekedar hendak memuji Ayub. Di balik pujian tersebut pasti ada sesuatu yang sangat penting yang harus kita pahami.

Apa yang dikemukakan dalam kitab Ayub hendak membuka mata pengertian kita terhadap kebutuhan pembanding. Pembanding juga menggiring pada fakta bahwa iblis bersalah. Pembanding itu juga berfungsi sebagai corpus delicti, itulah sebabnya harus ada makhluk ciptaan yang taat kepada Bapa di Sorga, mengasihi Bapa, dan hidup dalam persekutuan dan pengabdian kepada Allah Bapa. Sosok seperti inilah yang kemudian ditampilkan oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai Adam kedua atau Adam terakhir. Ia dapat menampilkan kehidupan yang taat kepada Bapa bahkan mati di kayu salib (1 Korintus 15:45). Tuhan Yesus menghadapi ujian dan pencobaan bukan hanya sampai di kesehatan fisik-Nya seperti Ayub tetapi sampai pada nyawa-Nya (Filipi 2:5-8). Tuhan Yesus menang atas segala pencobaan tersebut sehingga keselamatan manusia dapat tersedia. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula atau tujuan awal.

Tuhan Yesus tampil menggantikan tempat manusia yang harus dihukum dengan memikul atau menanggung dosa manusia. Hal ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya Ia bisa menjadi corpus delicti (fakta yang menunjukkan atau membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan). Hal ini membuktikan bahwa iblis terbukti bersalah dan pantas dihukum.

Hanya dalam kekristenan terdapat mekanisme keselamatan semacam ini. Itulah sebabnya hanya kekristenan yang memiliki konsep keselamatan “hanya oleh anugerah” (Latin sola gracia, Inggris only by grace). Wujud anugerah itu adalah pemberian Anak Tunggal Allah Bapa untuk menyelamatkan manusia. Dengan demikian kalau seseorang menolak kesempatan dalam Yesus Kristus, maka ia memandang Allah sebagai Allah yang tidak memiliki aturan.

Allah tidak akan pernah bertindak secara sembarangan tanpa aturan, tanpa hukum atau rule. Allah adalah Allah yang tertib. Di dalam diri-Nya ada hukum, aturan, atau kebijakan-kebijakan dari kecerdasan-Nya yang tiada batas. Dalam bertindak ada hukum atau semacam “The rule of the game” (aturan main) atau The rule of life(hukum kehidupan) yang oleh kedaulatan-Nya sendiri Allah tetapkan. Allah bertindak sesuai dengan hukum atau aturan tersebut. Inilah yang pasti dipahami oleh oknum yang disebut Lusifer, sehingga ia berani memberontak kepada Allah. Ia tahu bahwa Allah terikat dengan hukum dalam diri-Nya dan Ia tidak dapat menyangkalinya. Lusifer memanfaatkan realitas tersebut untuk mewujudkan keinginannya.

Memang hal ini tidak tertulis secara eksplisit (terang-terangan) tetapi inilah fakta yang bisa ditangkap secara logis yang bisa menjawab pertanyaan di atas (mengapa Allah tidak bisa segera membinasakan iblis?). Dari menganalisa secara jujur, mendalam dan analitis tindakan-tindakan Allah yang ditulis di dalam Alkitab, maka kita dapat memperoleh pemahaman yang tepat berkenaan dengan diri Allah dan hukum kehidupan ini.

Sangatlah logis kalau dipahami bahwa tidak mungkin Lusifer berani melawan Allah Bapa tanpa alasan atau dasar yang kuat. Ternyata Lusifer melihat celah peluang atau kemungkinan untuk bisa memenangi perlawanan terhadap Allah, sebab Allah tidak bisa bertindak di luar hukum keadilan-Nya. Lusifer mencoba mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan dari realitas tersebut. Ia membawa dirinya dengan Allah pada suatu “pertarungan”. Lusifer “berjudi” dengan keputusannya sendiri. Ia berharap bisa memperoleh apa yang diinginkan, yaitu mengangkat diri sebagai penguasa menyamai Allah. Itulah sebabnya dikatakan dalam Yehezkiel 28:16, bahwa ia berdagang. Berdagang artinya melakukan suatu usaha untuk memperoleh keuntungan tetapi masih bersifat “spekulatif” (untung-untungan). Di mana pun, aktivitas perdagangan memiliki unsur spekulatif ini.

Mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer saat itu juga ketika ia memberontak? Sebab tindakan Lusifer belum bisa dikatakan salah, sebab tidak ada verifikasi atau pembuktian bahwa Lusifer bersalah. Harus ada semacam “corpus delicti” (fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan). Anak Allah lainnyalah yang seharusnya membuktikan itu.

Demikian pula Lusifer yang jatuh, tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktiannya yaitu adanya makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan Dia secara benar. Makhluk yang memiliki ketaatan kepada Bapa itulah semacam “corpus delicti”. Hal ini membungkam iblis sehingga tidak bisa mengelak, sebab iblis terbukti melakukan suatu kesalahan. Inilah rule of the game (life) nya.

Ketika iblis memberontak melawan Allah, Allah tidak seketika bisa membinasakan. Ada “rule atau hukum atau aturan untuk bisa menunjukkan bahwa iblis bersalah dan pantas dihukum. Rupanya waktu itu belum ada pembuktian bahwa tindakan iblis bersalah dan patut dihukum, sebab jika pada waktu itu suda bisa terbukti iblis bersalah, niscaya iblis sudah dihukum. Bagaimana membuktikan bahwa iblis bersalah? Jawaban yang paling logis adalah Allah harus menciptakan makhluk yang melakukan kehendak-Nya, menjadi makhluk seperti yang dikehendaki-Nya atau yang dirancang-Nya. Untuk ini Allah melahirkan anak-Nya yang lain, yaitu Adam.

Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan, Allah dan meninggikan Allah Bapa serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal itu menjadi pembuktian terhadap kesalahan iblis sehingga ia bisa dihukum. Inilah rule of the game-nya. Kalau ada pertanyaan: mengapa bukan malaikat lain yang tidak jatuh yang membuktikan kesalahan Lusifer? Jawabnya adalah bahwa Lusifer bukanlah malaikat, tetapi anak Allah. Itulah sebabnya Allah harus menciptakan anak-Nya yang lain (Yehezkiel 28:12-19).

Ternyata Allah menciptakan manusia bukan sekedar ingin memiliki makhluk yang segambar dengan diri-Nya, ditempatkan dalam sebuah taman untuk mengelolanya. Tentu tidak sesederhana itu. Ada rancangan atau agenda yang lebih besar dari hal tersebut. Ternyata manusia diciptakan untuk menggenapi rencana Bapa yaitu mengalahkan iblis dengan membuktikan bahwa ia bersalah (corpus delicti). Itulah sebabnya bahan dasar yang dimiliki manusia pada hakekatnya adalah dari dalam Allah sendiri, yaitu melalui hembusan nafas-Nya. Manusia diciptakan segambar atau serupa dengan diri-Nya sendiri. Sangat luar biasa. Hal itu dilakukan Bapa agar manusia bisa mengalahkan Lusifer yang jatuh tersebut. Di sini manusia menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mengakhiri sepak terjang Lusifer.

Untuk membuktikan kesalahan Lusifer agar ia pantas dihukum, harus ada makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki segambaran dengan Allah. Makhluk yang diciptakan untuk membuktikan kesalahan Lusifer yang jatuh tersebut adalah manusia. Dengan demikian sejatinya Adam di taman Eden bukan hanya dididik untuk bisa taat tetapi bisa mencapai suatu persekutuan yang ideal dengan Allah untuk membuktikan bahwa Lusifer bersalah dan pantas dihukum.

Kegagalan manusia pertama menyisakan persoalan, siapakah yang dapat mengalahkan iblis atau membuktikan bahwa iblis bersalah dan pantas untuk dihukum. Tidak ada jalan lain, kecuali Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa. Anak Tunggal Bapa harus turun ke bumi menjadi manusia, untuk membuktikan bahwa ada pribadi yang bisa taat tanpa syarat kepada Bapa dan mengabdi sepenuhnya (Filipi 2:5-11; Yohanes 4:34). Hal ini akan membuktikan bahwa tindakan iblis salah dan patut dihukum.

Dalam 2 Petrus 3:11-14 terdapat pernyataan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan hari Allah. Hari Allah maksudnya hari dimana Tuhan mengakhiri sejarah dunia. Ini berarti petualangan iblis atau Lusifer yang jatuh berakhir. Iblis dengan pengikutnya dibuang ke dalam kegelapan abadi. Pada hari penghukuman tersebut iblis dan para malaikatnya serta manusia durhaka akan dihukum di lautan api tersebut sedangkan orang percaya akan diangkat Tuhan di dalam kemuliaan kerajaan Sorga.

Hari Allah adalah hari yang paling mengerikan bagi iblis (Lusifer yang jatuh) dan para malaikat yang memberontak. Mereka berusaha agar hari itu bisa ditunda selama mungkin. Untuk itu iblis dan pengikutnya berusaha menghambat terlaksananya eksekusi hukuman atas diri mereka. Dengan cara bagaimanakah mereka menghambat hari Allah itu? Dengan cara mencegah orang percaya memiliki kehidupan yang saleh tidak bercacat dan tidak bercela (2 Petrus 3:11,14). Mengapa? Sebab dengan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela berarti menjadi seperti Tuhan Yesus. Menjadi seperti Tuhan Yesus berarti bisa menjadi corpus delicti (fakta yang menunjukkan bahwa suatu kesalahan telah dilakukan) yang mengalahkan iblis. Iblis telah terbukti berbuat salah oleh penampilan kehidupan Tuhan Yesus yang hidup dalam ketaatan kepada Bapa di Sorga. Rupanya bukan hanya Tuhan Yesus yang dapat menjadi corpus delicti, tetapi anak-anak Tuhan pun juga bisa oleh kehidupannya yang tidak bercacat dan bercela. Jika jumlah orang-orang yang menjadi corpus delicti cukup atau genap, maka sejarah iblis akan diakhiri (Wahyu 6:11).

Mempercepat dalam teks asilnya adalahspeudo, yang selain berarti mempercepat juga berarti mendesak. Bagaimana hal ini dimengerti, bahwa waktu Tuhan bisa dipengaruhi oleh manusia atau faktor eksternal? Hal ini bisa dimengerti kalau kita memahami bahwa akhir sejarah dunia ini menunggu lengkapnya atau genapnya jumlah orang yang tidak menyayangkan nyawa demi pengiringan kepada Tuhan Yesus. Hal ini didasarkan pada pernyataan Tuhan dalam Wahyu 6:11, ketika dipertanyakan sampai kapan penderitaan yang dialami oleh orang percaya berhenti. Tuhan menjawab sampai jumlah orang yang dibunuh atau mati karena iman dan pelayanan sudah genap.

Dalam hal ini kita mengerti mengapa iblis masih bekerja keras sebisa-bisanya untuk dapat mencegah manusia menjadi seperti Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk kemuliaan Allah Bapa; taat sampai mati di kayu salib. Semakin banyak orang percaya diproses makin seperti Tuhan Yesus, semakin cepat sejarah dunia berakhir dan iblis dihukum. Itulah sebabnya Lusifer yang jatuh menciptakan berbagai ajaran baik di dalam dan di luar gereja untuk menghambat manusia menjadi seperti Kristus. Hal ini berarti menutup kemungkinan manusia dikembalikan kepada rancangan semula Allah atau yaitu menjadikan manusia sebagai corpus delicti.

Apa yang dimaksud dengan “perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11). Hal ini penting untuk dipelajari sebab yang bisa mengalahkan iblis bukan hanya darah Tuhan Yesus tetapi juga “perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut”. Apa yang dimaksud dengan “perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut’?. Orang yang memiliki perkataan kesaksian adalah orang yang benar-benar telah mengalami suatu perjuangan yang “all out“, sampai tidak menyayangkan nyawa. Tidak menyayangkan nyawa juga berarti tidak memiliki kesenangan atau keinginan kecuali melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Inilah isi dan kualitas kehidupan Tuhan Yesus (Yohanes 4:34). Perjuangan seperti ini juga telah dialami oleh Paulus, bahwa darahnya siap dicurahkan demi pelayanan bagi jemaat Tuhan (2 Timotius 4:6-8). Inilah standar anak-anak Allah yaitu rela melepaskan nyawa bagi saudara-saudaranya (1 Yohanes 3:16).

Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus memberi syarat kepada pengikutnya untuk tidak menyayangkan nyawa kalau mau menjadi pengikut yang benar (Matius 10:39; 16:25). Kata nyawa dalam teks aslinya adalah psukhe yang artinya jiwa. Dalam jiwa terdapat pikiran, perasaan, dan kehendak. Dalam jiwa ada keinginan-keinginan dan segala hasrat. Di dalam jiwa ada berbagai pengertian dan filosofi. Oleh sebab itu seorang yang rela kehilangan nyawa harus rela mengubah filosofi hidupnya. Kesediaan berubah itu dengan cara sungguh-sungguh mengkonsumsi kebenaran sehingga mengalami pembaharuan pikiran (Roma 12:2). Melalui pembaharuan pikiran inilah gaya hidup seseorang diubah. Perubahan yang signifikan ditandai dengan kerelaan berkorban apapun demi melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Jadi, kalau seseorang masih perhitungan dengan Tuhan atau masih tidak bersedia berkorban bagi kepentingan Kerajaan Allah, ia belum bisa dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Roma 8:17). Seorang yang bisa menjadi corpus delicti adalah orang yang benar-benar menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Merekalah orang yang tidak menyayangkan nyawanya seperti Majikan Agungnya.

***GBU***

MENGGADAIKAN HIDUP KEPADA DUNIA


Kalau sampai akhirnya ternyata hidup kita belum ditebus kembali, berarti hidup kita dimiliki oleh kuasa kegelapan selamanya.

Orang yang rela kehilangan hidupnya demi keselamatan jiwanya akan memperoleh hidup di Kerajaan Bapa di Sorga, tetapi mereka yang tidak berani mempertahukan hidupnya tidak akan memiliki hidup di Kerajaan Bapa di Surga. Lebih banyak orang yang memilih opsi yang kedua ini, sebab jauh lebih banyak orang yang hidup hanya untuk keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Orang-orang seperti ini seperti menggadaikan hidupnya kepada dunia. Akhirnya mereka akan binasa.

Menggadaikan hidup untuk dunia merupakan sikap yang menolak kasih Bapa (1 Yohanes 2:15-16). Dalam hal ini, Firman Tuhan tegas berkata, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17). Mereka tidak merasa bersalah, sebab rata-rata manusia memang demikian: hidup dengan cara mengisi pikirannya dengan segala keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Mereka tidak menduga bahwa tindakan mereka adalah tindakan yang membinasakan dirinya sendiri.

Kepada semua manusia, Iblis menawarkan keindahan dunia agar manusia menggadaikan dirinya. Tawaran ini disambut banyak orang, sebab faktanya banyak orang yang hidupnya telah tergadai. Di lain pihak, orang yang berusaha melakukan kehendak Allah adalah orang yang menyerahkan hidupnya bagi Tuhan. Ia telah menempatkan hatinya di dalam Kerajaan Sorga (Matius 6:21).

Kita tahu, Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk membebaskan manusia. Tetapi setelah dibebaskan, manusia harus memilih: menyerahkan hidupnya bagi Tuhan, atau bagi dunia. Mestinya kita memberikan segenap hidup kita bagi Tuhan, sebab setelah dibebaskan-Nya, berarti dengan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, kita mengembalikan hidup kita kepada Sang Pemilik, bukan menggadaikan. Tetapi jika kita memberikan diri untuk dunia, artinya kita menggadaikan hidup kita.

Selama kita masih hidup di dunia ini, masih ada kesempatan untuk bertobat agar menebus kembali hidup yang digadaikan kepada dunia itu. Kalau sampai akhirnya ternyata hidup kita belum ditebus kembali, berarti hidup kita dimiliki oleh kuasa kegelapan selamanya. Mari menebus kembali hidup kita yang digadaikan dengan cara bertobat dan mengubah cara hidup kita agar sesuai kehendak-Nya. Keselamatan dari Kristus memungkinkan kita kembali dimiliki oleh Tuhan dan menjadi anggota Kerajaan-Nya. Ia telah menebus hidup kita, jadi kalau kita gadaikan lagi, segeralah tebus kembali selama masih ada kesempatan.

-Solagracia-

Disadur dari:

Surat Gembala 13 Mei 2012

REHOBOT – Membangun Umat Kerajaan Sorga dalam Kebenaran

Doa Santo Fransiskus dari Asisi


Image

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami,
mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.

Amin.

All My Days


Give me a heart to worship You
Give me a heart to love You
Teach me Lord to number my days
That I may please Your heart
In all my days

For You are worthy
To receive glory
To You my life I yield
I will bless You all my days
I lift my hands to You
My life is Yours to use
A living sacrifice
Be acceptable to You

Teach Me Your Way (Ajar Aku Tuhan)


Teach Me Your Way O Lord
And I Walk In Your Truth
Give Me An Undivided Heart
That I May Fear Your Name

Reff :
I Will Praise You, Forever And Ever
With All Of My Heart, With All Of My Strength
And All Of My Life, I Offer To You Lord
Let Your Will Be Done In My Life
Teach Me Your Way, Teach Me Your Way

Ajar Aku Tuhan
Jalan Dalam T’rangmu
B’rikan Ku Hati Yang Teguh
Mengasihimu

Reff :
Ku Puji Kau Selama-Lamanya
Seg’nap Hatiku Seg’nap Kuatku
Seg’nap Hidupku Kus’rahkan Padamu
Jadilah Sesuai K’hendakmu
Ajar Aku Yesus Tuhan

How Low Can You Go?


Shallom.. :D

Hai teman-teman terkasih.. Senang sekali rasanya bisa berkesempatan menulis lagi.. Saya sangat bersyukur karena beberapa hari ini Tuhan banyak memberikan inspirasi melalui buku-buku, renungan saat teduh, dan melalui berbagai kegiatan dalam keseharian saya. Dia membukakan lebih dalam lagi kepada saya akan hal-hal di sekitar saya yang sebelumnya kurang atau bahkan belum pernah saya sadari. Saya rindu membagikan berkat ini untuk kalian. Mohon maaf yaa jika dalam penyampaiannya ada kekurangan. hehe.. Selamat menikmati.. God leads!

HOW LOW CAN YOU GO?

Teman2, menurut kalian mana yang lebih memungkinkan dari dua kondisi ini: yang “bawah” naik ke “atas” atau yang “atas” turun ke “bawah”? Yang mana yang lebih mudah: yang “bawah” merasakan yang “atas” ataukah yang “atas” merasakan yang “bawah”?

Kebanyakan dari kita lebih suka mendengar kisah tentang bagaimana seseorang yang berhasil dalam hidupnya, dahulu dia hidup susah namun sekarang dia menjadi orang yang  sukses dan terpandang, kaya, terkenal atau kondisi lainnya yang umumnya didambakan oleh setiap orang. Namun, ketika mendengar kisah seseorang yang tadinya sukses atau berada di atas namun kini dia bangkrut, umumnya kita memandangnya sebagi sesuatu yang menyedihkan. Kita juga umumnya memiliki harapan/mimpi untuk bisa naik ke atas, bukan turun ke bawah. Benar atau benar? hehehe.. ;) Apakah salah kalau kita memiliki impian seperti itu? Tidak, namun cara pandang kita yang harus benar.

Minggu ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mencicipi dunia kerja. Saya diminta magang di suatu perusahaan swasta di Jakarta. Awalnya saya masih merasa asing di sana, namun perlahan-lahan saya mulai dapat beradaptasi dan menikmatinya. Di kantor saya, juga di kantor-kantor lain pada umumnya, terdapat berbagai jabatan, mulai dari Direktur, Head, Manager, Supervisor, Officer/Staff, Office Boy, Security, Pantry, dlsb. Saya sendiri merupakan ‘orang baru’ di kantor. Di sana saya mengamati bahwa lebih mudah bagi orang-orang dengan jabatan yang lebih tinggi untuk menjangkau orang-orang dengan jabatan di bawahnya daripada sebaliknya. Begitu juga dengan saya, lebih mudah bagi orang-orang lama di kantor tsb untuk memulai pembicaraan/mengakrabkan diri dengan saya yang adalah orang baru, daripada saya yang mendekatkan diri kepada mereka. Namun, fakta yang saya temui di lapangan memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Sangat jarang saya melihat adanya niat/kemauan dari orang-orang yang berada di atas untuk menengok dan berbagi rasa dengan orang-orang yang ada di bawahnya.

Kita seringkali sudah merasa cukup dengan zona nyaman kita sehingga kita tidak mampu melihat adanya kebutuhan di dalam diri orang lain yang sebenarnya juga merupakan kebutuhan kita. Nilai-nilai yang kita terima dari dunia mengajarkan kita untuk berusaha mencapai yang terbaik bagi diri kita, hal ini berujung pada terjadinya iklim persaingan di antara manusia dalam memenuhi kebutuhannya dan mengakibatkan manusia cenderung menjadi egois dan tidak menempatkan kepentingan orang lain lebih tinggi dari pada kepentingan diri sendiri. Yah, kondisi ini merupakan akibat dari dosa manusia. Iblis berupaya sedemikian rupa memutarbalikkan semuanya (termasuk nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia) dengan segala tipu muslihatnya.

Berbicara mengenai cara pandang manusia, saya seringkali mendapati adanya semacam peng’cluster’an antara “atas” dan “bawah”.  Pemberian sebutan “atas” dan “bawah” ini sering salah dimengerti oleh sebagian besar orang. Orang yang kaya dipandang sebagai yang “atas” sedangkan orang yang miskin dipandang sebagai orang “bawah”,  begitu juga untuk majikan vs buruh, pemimpin vs staf, bahkan gembala vs pengerja/jemaat, dan lain sebagainya. Manusia kerapkali memberikan nilai yang berbeda dalam melihat keduanya dan cenderung melahirkan perlakuan yang diskriminatif di antara keduanya. Stratifikasi dan diferensiasi sosial makin mendorong lahirnya berbagai macam pembedaan dalam masyarakat kita. Sadar atau tidak sadar, hal-hal ini merupakan cara pandang dunia, dan bukan berasal dari Tuhan.

Bagaimana cara pandang Tuhan? Setiap orang  berharga di mata Tuhan. Dia tidak pernah membeda-bedakan manusia, Dia mengasihi dan menghargai seorang direktur sama seperti Dia mengasihi dan menghargai seorang pesuruh di kantor. Dia memandang seorang penjahat dengan kasih yang sama besarnya dengan ketika Ia memandang seorang pembela kebenaran. Seburuk atau sehina atau sejahat apapun seseorang di mata manusia, di mata-Nya mereka sama berharganya dengan kita. Ketika saya menyadari hal ini saya merasa sangat malu dan tertampar. Betapa sering saya kurang menghargai orang lain, terlalu asyik dengan kepentingan dan kenyamanan saya sendiri, dan melihat mereka dengan penilaian yang diberikan oleh dunia. Hati saya hancur dan saya merasa sangat tidak layak untuk melakukan hal itu. Setiap jiwa berharga di mata-Nya, bagaimana mungkin saya yang hanyalah manusia biasa masih membeda-bedakan sesama saya sendiri? Setelah memahami bagaimana cara pandang Allah ini, penilaian “atas” dan “bawah” itu tidak berlaku lagi bagi saya. Dan ketika saya memakai cara pandang Allah dalam hubungan saya dengan sesama, maka Dia memampukan saya untuk mengasihi orang lain bahkan orang-orang yang saya benci karena perilakunya (perokok, penjahat) lebih dari apa yang bisa saya bayangkan sebelumnya.

Teman, Tuhan kita tidak hanya berhenti pada cara pandang saja, tetapi teladan yang Ia berikan Ia wujudkan dalam suatu tindakan nyata. Istilah perbedaan “atas” dan “bawah” memang tidak berlaku bagi sesama manusia, namun hal itu berlaku bagi Tuhan dan kita (manusia). Dia memang “atas” – kita memang “bawah”, Dia memang Pencipta – kita memang ciptaan, Dia adalah Tuhan yang kudus dan mulia – kita adalah manusia berdosa. Dengan fakta ini, dapatkah kalian hayati betapa besar kasih-Nya bagi kita ketika Dia – yang adalah Tuhan, Pencipta, yang “atas” – turun ke dalam dunia ini, berinkarnasi menjadi manusia seutuhnya, sama seperti kita yang adalah ciptaan-Nya. Sungguh betapa dahsyat Allah kita! Dia adalah teladan sejati yang mengajarkan kepada kita apa itu kerendahan hati. Dia “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:6-8). Dia yang adalah Raja segala raja, datang ke dunia ini yang adalah milik kepunyaan-Nya, bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani! Ia datang bukan hanya untuk melihat dan turut merasakan apa yang kita rasakan, namun lebih dari itu, Ia memberikan segala sesuatu yang dimiliki-Nya kepada kita, bahkan nyawa-Nya sendiri! Dia datang, supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10).

Luar biasa kasih Allah kita! Dia memandang kita sebagai anak-anak-Nya yang sangat berharga dan Dia mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan serta memenuhi kebutuhan kita tersebut dengan berlimpah-limpah. Ketika kita memandang sesama kita seperti Tuhan memandang mereka, maka Tuhan akan menaruh kerinduan-Nya ke dalam hati kita. Ia akan memberikan kepada kita kepekaan akan kebutuhan orang lain. Kebutuhan manusia yang sesungguhnya ialah Tuhan sendiri. Dialah sumber jawaban dalam hidup setiap manusia. Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Dialah juruselamat kita, pemilik kehidupan kita. Ketika kita tinggal di dalam Dia maka buah-buah roh – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri – akan nyata dalam kita dan Roh Kudus akan senantiasa  menjaga serta memimpin tiap langkah hidup kita.

Inilah ajakan-Nya yang begitu lembut buat setiap kita:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih, lesu, dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28-29)

Ayat di atas kembali mengingatkan kita bahwa Dia – yang adalah Pemenuh sejati segala kebutuhan kita dan teladan hidup kita yang sempurna – memerintahkan agar kita masing-masing memikul kuk yang telah Ia pasang dan meneladani kelemahlembutan dan kerendahan  hati-Nya. Kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan-Nya dan membagikan kasih-Nya kepada siapa saja yang kita temui. “Yesus telah mempermuliakan Bapa di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepada-Nya untuk melakukannya. “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.” (Yoh 17:6). Seperti Yesus yang datang ke dunia ini untuk menyatakan Bapa kepada kita, demikian halnya kita  sebagai umat tebusan-Nya, kita harus menyatakan Kristus kepada sesama kita melalui cara pandang, sikap, perbuatan, pikiran, dan setiap hal dalam hidup kita. Semuanya adalah milik-Nya dan harus kita pergunakan sesuai dengan kehendak-Nya dan untuk kemuliaan-Nya.

Sebagai respon, saya mengajak kita semua mulai saat ini untuk lebih peka melihat kondisi di sekitar kita, marilah kita belajar untuk melihat sesama kita dengan cara pandang Tuhan, dan mintalah Dia memakai kita untuk dapat menjadi alat-Nya yang efektif dalam menjangkau mereka. Kalau Tuhan telah memberikan segala-Nya kepada kita, tidakkah hati kita tergerak untuk memberikan segala yang Dia percayakan kepada kita termasuk hidup kita untuk mendatangkan Kerajaan-Nya di bumi ini? Ingat: setiap orang sangat berharga di mata-Nya! Mereka perlu kasih-Nya dan tugas kitalah untuk menyatakannya..

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau..”

(Yesaya 43:4a)

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

… Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Matius 25:35-36, 40b

All blessings,

Stephani Debora